HUBBUL WETON

Akhir Tahun, Akhir Windu dan Tahun Baru Jawa 1954. Apa yang perlu diperhatikan?

Sururi Arumbani

Setiap waktu ada akhirnya, dan setiap akhir ada awalnya. Kalimat tersebut seolah menggambarkan tahun baru Jawa besok yang jatuh pada tanggal 20 Agustus 2020. Jatuh pada hari Kamis Pon, Windu Sangara, mangsa ketiga, tahun 1954 Jawa, dan kurup Asapon. Mungkin anda berbeda untuk menandai tanggal 1 Suro 1954 besok, tidak hari Kamis Pon, tetapi Jum’at Wage. Bagi orang yang memegang kalender Hijriyah, itu bisa terjadi. Sebab tanggal 20 Agustus 2020, adalah 30 Dzulhijjah. Jadi malam Jum’at Wage adalah 1 Muharram 1442 H. Sebagian orang juga masih memegang kurup Aboge yang menggunakan rumus JIMAGE, kepanjangan dari tahun Jimakhir jatuh pada Jum’at Wage. Nah tahun baru nanti adalah tahun Jimakhir, yang jatuh pada Juma’ah Wage. Maka orang-orang yang masih memegang prinsip Aboge (tahun Alip Rebo Wage), maka jatuhnya tanggal 1 Suro di tahun Jimakhir adalah Jum’at Wage, yang besok bertepatan dengan tanggal 21 Agustus 2020. Meski seharusnya tahun 2020 itu masuk dalam Kurup Asapon, tahun Alip jatuh pada Selasa Pon, yang dimulai tahun 1867 M. Jika menggunakan rumus Asapon, maka tahun Jimakhirnya jatuh pada Jamispon (tahun Jimakhir jatuh pada Kamis Pon).

Saya lebih memilih tahun baru besok, tanggal 1 Suro 1954 Jawa adalah hari Kamis Pon. Neptu Kamis Pon adalah 15. Warna aura yang dominan adalah warna kuning. Dalam kosmologi Jawa, warna kuning identik dengan kasepuhan, sudah tua, berumur. Memasuki akhir dari siklus windu, maka tahun Jimakhir adalah akhir dari siklus (tahun alip, ha, jimawal, za, dal, ba, wawu dan jimakhir). Ini berarti usia tahun yang sudah harus kosong, jauh dari kepentingan duniawi. Tahun Jimakhir disebut Swasana, artinya kosong, semua kembali kepada Tuhan.

Orang Jawa sering menyebut nama-nama sesuatu dikaitakan dengan siklus perjalanan hidup. Seperti nama tembang Mijil, Dandanggula, Pocung, Megatruh dan sebagainya adalah perlambang perjalanan hidup manusia. Memasuki tahun Jimakhir, kita dituntut sudah selayaknya mengosongkan hati dari jatuh terikat pada kepentingan duniawi. Harus ingat kehidupan akhirat, kehidupan abadi. Orang yang akan memperingati 1 Suro, selayaknya demikian niatnya, yaitu mengingat kehidupan kelak, bagaimana nasib kita dalam perjalanan di dunia ini.

Tanggal 20 Agustus 2020, masih dalam mangsa (musim) kedua, kalender pranata mangsa. Tanggal 25/26 Agustus memasuki musim ketiga, yang ditandai tanah mulai retak, cuaca panas, ada lintang kemukus, dan udara dingin di malam hari. Tetapi melihat windunya Sangara, maka dapat terjadi sesuatu yang seharusnya tidak terjadi pada musim kemarau. Apa itu? Banjir. Ada empat nama windu, yaitu adi, kuntara, sangara dan sancaya. Windu saat ini adalah sangara yang berarti terlalu banyak air, banjir terjadi di mana-mana. Oleh karena itu kita tetap harus waspada hujan deras yang bisa mengakibatkan banjir.

Tanggal 20 Agustus 2020, atau 1 Suro 1954 Jawa kebetulan jatuh pada hari Taliwangke. Dalam penanggalan Jawa, itu hari tidak baik untuk banyak hal. Taliwangke, bisa diartikan tali mayat/bangkai. Sebagian orang Jawa percaya bahwa pada hari taliwangke tidak boleh melakukan aktifitas-aktifitas penting seperti pesta pernikahan, hajatan, membangun rumah dan lain sebagainya. Banyak problem yang akan dihadapi. Mungkin ini juga pertanda bahwa tahun baru Jawa besok itu juga akan ketemu banyak hal ruwet. Hari pertama di tahun Jimakhir tersebut diawali hari Taliwangke. Bagi kita ini bisa menjadi pengingat, bahwa problem yang akan dihadapi masih banyak. Oleh karena itu kembali kepada kosong, Swasana seperti diuarikan sebelumnya menjadi penting.

Saya kira beberapa hal yang saya sebut di atas, bisa menjadi bekal bagi kita semua, mempersiapkan diri memasuki tahun baru Jawa 1 Suro 1954, dengan waspada terhadap potensi masalah, serta mempersiapkan diri semakin mendekat kepada Allah swt. Sudah swasana, sudah kosong. Dan kelak akan terlahir sebagai manusia baru, di tahun alip yang baru.

Penulis: Sururi Arumbani

loading...
Comments

BERITA POPULER

To Top