features

Hari Batik Nasional, Apa Kabar Batik Kedungcangkring yang Dulu Melegenda?

5C568535-8488-4DED-AC04-03CBDE28738F

SIDOARJO, JURNAL9.tv- Batik tulis Kedungcangkring adalah batik tertua di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Bahkan masuk dalam daftar batik paling kuno di Indonesia. Sayangnya, batik tradisional ini kemudian tergerus oleh zaman.

Batik tulis Kedungcangkring punya sejarah yang cukup cemerlang di era sebelum kemerdekaan. Bahkan di masa kerajaan, ketika pasukan Mongolia mendarat ke bumi Nusantara.

“Batik tulis Kedungcangkring sudah ada sejak zaman Majapahit. Jauh sebelum Indonesia merdeka,” jelas Lutfilah, salah seorang pengrajin batik tulis Kedungcangkring.

Lutfilah dan beberapa pengrajin batik mengaku prihatin terhadap kondisi batik kuno yang mulai dilupakan. Oleh karena itu ia dan sejumlah pengerajin batik di Sidoarjo berinisiatif menghidupkan kembali. Usaha mempertahankan batik tulis Kedungcangkring sebagai upaya melestarikan budaya yang dimiliki desa setempat.

Lutfilah, warga asal Dusun Kauman Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo ini berusaha terus eksis. Ia membuat berbagai macam motif batik sesuai perkembangan zaman.

Lutfilah menekuni pekerjaan sebagai pengerajin batik tulis bukan tiba-tiba. Ia mewarisi keahlian ini dari ibu dan neneknya, pengerajin batik tulis senior di desa. Kedungcangkring.

Keberdaan batik tulis Kedungcangkring mengalami pasang surut. Pernah berjaya di masa Diponegoro lalu jatuh pada awal kemerdekaan dan bangkit kembali sekitar tahun 1955 hingga tahun 1980-an.

Pada masa 1970-an, batik Kedungcangkring kembali jatuh karena adanya persaingan dagang. Dari Tiongkok muncul batik printing yang lebih murah dan menguasai pasar.

Batik tulis Kedungcangkring mempunyai berbagai motif. Mulai dari motif beras utah atau beras jatuh, motif sisik melek atau mirip dengan sisik ikan bandeng dan motif krubutan.

Zaenudin Fanani, salah seorang tokoh masyarakat di Sidoarjo mengatakan bahwa batik jetis dan batik kenongo maupun batik-batik lain yang tersebar di wilayah Sidoarjo berasal dari pengerajin batik Kedungcangkring. “Bahkan batik Pekalongan Jawa Tengah juga mendapat pengaruh dari desa Kedungcangkring,” tutur Zaenudin Fanani.

Menurutnya, dulu ada banyak santri dari Pekalongan belajar di pondok pesantren tertua di Jabon. Di sela waktu belajar ilmu agama mereka juga belajar membatik dari pengerajin batik tulis Kedungcangkring. Setelah mempunyai bekal keahlian membatik, mereka pun kembali daerahnya untuk mengembangkan batik tulis yang berasal dari Kedungcangkring.

Saat ini di Kedungcangkring ada sekitar 10 pengerajin batik tulis. Dua orang masih aktif membuat batik, sisanya mencoba keras bertahan hidup di tengah mahalnya ongkos kerja dan persaingan melawan batik printing yang lebih murah.(hid/shk)

loading...
Comments

BERITA POPULER

To Top