Jakarta, jurnal9.tv – Seminar Internasional bertajuk “Inisiatif Peradaban Global dan Semangat Cheng Ho” digelar oleh Kantor Informasi Pemerintah Provinsi Yunnan dan Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Yunnan, Selasa (30/1), di Hotel Borobudur, Jakarta.
Dihadiri lebih dari 60 peserta dan menjadi rangkaian kegiatan budaya “Pelayaran Cheng Ho: Sang Duta Persahabatan Dunia” dihelat dalam rangka membahas nilai-nilai Inisiatif Peradaban Global serta relevansi semangat Laksamana Cheng Ho dalam memperkuat komunikasi internasional. Forum merekomendasikan dibentuknya “Basis Pakar Komunikasi Internasional China Newsweek South Asia Edition-Bridge Era”, menghimpun lebih 20 pakar komunikasi internasional dan akademisi dari Tiongkok, Indonesia, Sri Lanka, Nepal, dan negara lainnya.

Profesor Liu Liqiong dari Kunming City University menjelaskan bahwa Inisiatif Peradaban Global mendorong penguatan pertukaran antar masyarakat dan kerja sama lintas budaya. Ia mencontohkan berbagai kolaborasi nyata antara Yunnan dan Indonesia, seperti Program “Heart-to-Heart Connectivity-Yunnan” di Bali yang mendukung pertanian hijau serta kerja sama pendidikan antara Yunnan Normal University dan sekolah tiga bahasa Wenjiao di Bali. “Kerjasama berbasis transformasi budaya semacam macam ini perlu ditingkatkan,” lanjut Liu Liqiong.

Sementara itu, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Thung Julan, mengatakan bahwa pelayaran Cheng Ho ke Jawa, Sumatra, dan wilayah Nusantara lainnya meninggalkan warisan persahabatan yang dibangun atas dasar kesetaraan dan saling menguntungkan. Menurutnya, hubungan antarmasyarakat merupakan fondasi utama hubungan bilateral yang berkelanjutan.

Pada sesi diskusi panel, Profesor Shan Xiaohong dari Universitas Yunnan menyampaikan bahwa komunikasi internasional saat ini berkembang menuju narasi bersama yang melibatkan berbagai peradaban. Di Tiongkok, Cheng Ho dipandang sebagai simbol perdamaian dan keterbukaan, sedangkan di Indonesia ia menjadi simbol akulturasi budaya dan persahabatan. “Perbedaan perspektif tersebut justru membentuk memori bersama yang berharga dan layak dipromosikan melalui kolaborasi kedua negara,” tegasnya.

Co-Founder Gentala Institute sekaligus Direktur Komunikasi dan Kajian Strategis Gentala Institute Indonesia, Christine Susanna Tjhin mengusulkan pembentukan kelompok kerja bersama antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan media dari Indonesia dan Tiongkok untuk mendigitalisasi arsip sejarah Cheng Ho di Semarang, Cirebon, dan berbagai lokasi lainnya menjadi basis data multibahasa yang dapat diakses masyarakat internasional. Ia juga berharap Yunnan dan Indonesia dapat terus memperkuat mekanisme pertukaran jangka panjang melalui kerja sama antardaerah dan masyarakat sipil.

Seminar ini menegaskan pentingnya semangat Cheng Ho sebagai jembatan dialog antarperadaban sekaligus memperkuat kerja sama Indonesia–Tiongkok dalam bidang pendidikan, budaya, penelitian, dan komunikasi internasional di masa depan.