Jombang, jurnal9.tv – Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 yang digelar oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) Nahdlatul Ulama di Universitas Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang resmi ditutup pada Ahad (14/6) oleh Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, KH. Hasib Wahab. Dihadiri ratusan budayawan dan pengurus Lesbumi Indonesia, kegiatan ini digunakan juga srbagai Rakernas VII Lesbumi NU dan berlangsung sejak Jumat malam, serta melahirkan 12 Poin Rekomendasi Kebudayaan.

Ketua Lesbumi PBNU, KH. Jadul Maula mengatakan kedua belas rekomendasi yang dihasilkan merupakan perumusan dari gagasan, aspirasi dan perenungan yang berkembang selama tiga hari pelaksanaan muktamar kebudayaan dan rakernas Lesbumi. Beberapa tokoh, akademisi, budayawan dihadirkan dalam sidang Pleno dan komisi yang diikuti secara antusias oleh peserta hingga minggu sore. Beberapa tokoh yang dihadirkan, diantaranya Sejarawan NU, KH Mun’im Dz, Pakar Sosiologi Politik dan mantan Menristek RI, Dr. Muhammad AS Hikam, Akademisi UGM, Prof. Dr. Purwo Santoso, putri bungsu Gus Dur, Inaya Wulandari, Wasekjen PBNU, Dr. Najib Azca dan Savic Ali hingga peneliti Youth Researcher, Dr. Muhammad Faisal. “Perasan hasil muktamar kebudayaan yang dihasilkan ini semoga bisa menjadi inspirasi bagi negara dan masyarakat khususnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang segera akan menggelar Muktamar,” jelas Kiai Jadul.

Berikut 12 rekomendasi Muktamar Kebudayaan 2026 selengkapnya:

Pertama, menghidupkan kembali khittah Indonesia 1945,
Kedua, menguatkan tradisi keilmuan dan keulamaaan,
Ketiga, membangun jihad pengetahuan dan kebudayaan,
Keempat, meneguhkan demokrasi ekonomi berbasis rakyat,
Kelima, mengembangkan paradigma ekologi berbasis kebudayaan,
Keenam, menuntut tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan,
Ketujuh, menyiapkan generasi berkarakter dan berdaya cipta,
Kedelapan, mengembangkan Aswaja sebagai etika peradaban digital,
Kesembilan, merevitalisasi kebudayaan sebagai ruang pertemuan bangsa,
Kesepuluh, meneguhkan Resolusi Jihad sebagai spirit perjuangan peradaban,
Kesebelas, emperkuat peran Lesbumi sebagai laboratorium peradaban,
Keduabelas, menjadikan Kembali ke Akar sebagai kebudayaan Nasional.