Jakarta, jurnal9.tv – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI sedang menyiapkan Roadmap Artificial Intellegence (AI) sebagai panduan strategis 5 tahun untuk mewujudkan ekosistem Kecerdasan Buatan yang inklusif, etis, dan berdaya saing global menuju Visi Indonesia Emas 2045. Pesantren didorong berperan, tidak hanya dalam menjadikan AI alat bantu pembelajaran, tetapi sebagai jangkar moral sosial yang dibutuhkan dalam arsitektur kemanusiaan kecerdasan buatan, termasuk bagi perlindungan terhadap anak, perempuan dan kepribadian bangsa.
Demikian garis besar Seminar Nasional “Peran Pesantren dalam Perkembangan AI dan Perlindungan Anak dan Perempuan di Ruang Digital” di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta, pada Senin (18/5), diikuti presentasi kaum gen Z dari santri Al-Tsaqafah, komunitas perempuan fatayat NU dan perwakilan Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) dari seluruh indonesia. Hadir sebagai pembicara, Ketua Komisi VI DPR RI Hj Anggia Ermarini, Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Budaya Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Wijaya Kusumawardana dan VP IT Digital Strategy & Performance Telkom Indonesia, Joko Adi Wibowo. Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj memberikan keynote speech.
Atas nama pemerintah, Wijaya Kusumawardana menyampaikan Road Map yang disiapkan berfokus utama Road Map Kecerdasan Buatan mencakup tiga pilar utama yakni Tata Kelola dan Regulasi, Pengembangan Talenta swrya Infrastruktur dan Data. Ada lima sektor strategis prioritas yang dituju, yakni Kesehatan, pendidikan terkait personalisasi pembelajaran, Keuangan, Transportasi dan Industri Kreatif terkait otomatisasi dan kreasi konten digital. “Peta jalan ini sudah kami susun, dan sedang ada di meja presiden untuk mendapatkan persetujuan,” tutur Wijaya.
Lebih lanjut, sebagai salah satu lembaga pendidikan penting yang bersentuhan langaung dengan anak dan generrasi muda Wijaya mendorong keterlibatan pesantren dalam perkembangan teknologi AI khususnya di bidang pendidikan dan perlindungan anak. “Kami mendorong keterlibatan pesantren, seluruh pihak, akademisi, termasuk para ahli di pesantren,” katanya. Menurutnya, pengawasan terhadap teknologi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga keluarga dan lingkungan terdekat anak. “Agar orang tua turut bertanggung jawab dalam pengawasan. Pemerintah mengawasi platform, namun untuk pengguna, keluarga harus terlibat,” ujarnya.
Dalam pidato kuncinya, Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, KH Said Aqil Siroj, menegaskan bahwa AI harus dipahami dan dikuasai sebagai alat yang dapat memberi manfaat besar bagi manusia. “Manfaatnya besar sekali, tetapi harus sadar ada mudarat besar. Jangan dimusuhi, jangan dihindari, tetapi diarahkan,” katanya.
Sementara itu, Anggia Ermarini menilai kemunculan teknologi AI sudah tidak lagi dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Bahkan, AI disebut bukan sekadar alat teknologi, melainkan telah berkembang menjadi struktur sosial baru. AI, lanjut Anggi, bukan sekadar inovasi teknologi yang berdiri sendiri, tetapi struktur sosial baru. “Perkembangan AI membentuk pola komunikasi, relasi sosial, hingga cara manipulasi informasi melalui algoritma digital dan turut memunculkan risiko baru seperti kekerasan digital, penipuan, hingga eksploitasi data yang sering kali terjadi tanpa disadari masyarakat,” tegasnya sambil menegaskan pentingnya maqashid syariah sebagai prinsip dalam menjaga serta mengarahkan penggunaan teknologi AI agar tetap berpihak pada kemaslahatan manusia.
Joko Adi Wibowo, sebagai perwakilan perusahan penyedia infrastruktur digital menyebut arti penting pesantren untuk memastikan moralitas tetap terjaga di tengah perkembangan teknologi digital dan perlu ada entitas yang menjadi jangkar moral sosial bangsa ini, dan itulah peran pesantren. Ia menambahkan kolaborasi antarpihak diperlukan untuk membangun arsitektur kemanusiaan digital yang sehat dan beretika bagi bangsa Indonesia. “Kita perlu melakukan kolaborasi dan sinergi agar membentuk arsitektur kemanusiaan digital yang proper bagi bangsa ini,” lanjutnya.
Menurut Joko, pesantren memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem digital yang sehat, termasuk melalui penguatan akses internet aman dan layanan digital yang mendukung aktivitas pendidikan. Ia mencontohkan penggunaan learning management system untuk pelaksanaan ujian berbasis digital hingga sistem pemantauan kegiatan guru dan santri secara lebih tertata. Karena itu, ia menilai perlu ada langkah bersama dalam membangun kolaborasi, mulai dari peningkatan keterampilan digital, inkubasi talenta, hingga pengembangan solusi AI yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Ketua Panitia Seminar Nasional, Sofwan Yahya
Sofwan mengharapkan ke depan bisa dibangun kerjasama semua pihak bisa dijalin lebih kuat dan seminar kali ini bisa menjadi contoh baik kerjasama, yakni Kementerian Komdigi sebagai representasi negara, Dunia Usaha melalui PT Telkom Indonesia, PT PLN dan HPN, masyarakat melalui fatayat NU dan dunia akademik yakni pesantren serta TV9 Nusantara sebagai media partner.
Kerjasama itu penting, karena perlu gerakan literasi AI dan digital bagi santri, wali santri, guru, dan masyarakat agar lebih terlindungi dari hoaks, perundungan, eksploitasi, serta kekerasan digital. “Terima kasih pada semua pihak yang terlibat dalam seminar Ini sebagai usaha kolaborasi antara pemerintah, pesantren, akademisi, dunia usaha, media.dan masyarakat untuk menciptakan ruang digital yang aman bagi anak, perempuan, dan masyarakat,” tegasnya. (*)




