Makkah, jurnal9.tv – Upaya meningkatkan pelayanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia terus dilakukan oleh Kementerian Haji dan Umrah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Makkah. Salah satunya dengan membuka empat klinik kesehatan satelit di Hotel Al-Hidayah, kawasan Aziziyah, Makkah, Arab Saudi.
Langkah ini diambil untuk mendekatkan akses layanan medis kepada jemaah yang menginap di hotel tersebut, sehingga penanganan kesehatan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.
Koordinator Tim Kesehatan Haji Sektor 10, dr Mario Abdullah, mengatakan bahwa fasilitas ini merupakan bagian dari strategi pelayanan kesehatan berbasis lokasi jemaah.
“Kami membuka fasilitas pelayanan yang terdiri dari empat klinik kesehatan satelit,” ujar Mario saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Hotel Al-Hidayah, Aziziyah, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, keempat klinik tersebut tersebar di sejumlah tower hotel untuk menjangkau seluruh jemaah. Klinik satelit 1 berada di Tower 1 dan melayani jemaah di Tower 1 dan 2. Klinik satelit 2 ditempatkan di Tower 3 untuk melayani jemaah di Tower 3 dan 9A.
Selanjutnya, klinik satelit 3 berada di Tower 4 yang melayani jemaah di Tower 4, 9C, dan Tower 5. Sementara klinik satelit 4 berada di Tower 8 untuk melayani jemaah di Tower 6, 7, dan 8.
Meski demikian, operasional penuh klinik masih menunggu izin resmi dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Selama masa tersebut, petugas kesehatan tetap memberikan pelayanan melalui kunjungan langsung ke kamar jemaah.
“Untuk sementara, sambil menunggu izin resmi, kami melakukan visitasi ke jemaah,” kata Rido, salah satu petugas kesehatan.
Metode ini dinilai efektif agar jemaah tetap mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus menunggu klinik beroperasi penuh.
Dari hasil pemeriksaan sementara, mayoritas jemaah mengeluhkan gangguan kesehatan ringan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Selain itu, ditemukan pula sejumlah kasus tekanan darah yang tidak stabil.
Menurut Rido, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh aktivitas jemaah yang cukup padat selama menjalankan rangkaian ibadah.
Untuk penanganan, tim kesehatan telah menyiapkan obat-obatan yang memadai dan dapat langsung diberikan sesuai dengan kondisi medis jemaah.
“Alhamdulillah obat-obatan sudah tersedia dan kami bisa memberikan pengobatan sesuai kebutuhan jemaah,” ujarnya.
Ia menegaskan, apabila ditemukan kasus yang memerlukan penanganan lanjutan, tim kesehatan akan segera berkoordinasi dengan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) atau merujuk pasien ke rumah sakit setempat.
“Jika ada kasus yang lebih berat, kami akan rujuk agar jemaah mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif,” katanya.
Dengan hadirnya klinik satelit ini, diharapkan kualitas layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia semakin optimal, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca dan aktivitas ibadah yang cukup padat di Tanah Suci.
M. Hariri, Media Center Haji 2026




