Jeddah, jurnal9.tv – Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalimantan Selatan, Dr. M. Anshari, S.Th.I., M.HI., C.SM mengapresiasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 yang dinilainya semakin ramah bagi penyandang disabilitas, lanjut usia (lansia), dan perempuan.
Anshari yang juga menjadi jamaah haji tahun ini mengaku merasakan langsung berbagai kemudahan yang disediakan pemerintah Indonesia bagi jamaah berkebutuhan khusus selama berada di Tanah Suci.
“Sebagai penyandang disabilitas dan jamaah haji, saya merasakan langsung bagaimana aksesibilitas yang disediakan pemerintah sangat membantu. Mulai dari asrama haji, hotel, transportasi, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya telah memberikan kemudahan bagi jamaah disabilitas dan lansia dalam menjalankan ibadah,” kata Anshari dalam keterangan video yang diterima Media Center Haji (MCH) 2026, Jumat (5/6/2026).
Menurut Anshari, perhatian pemerintah terhadap jamaah disabilitas dan lansia terlihat sejak proses keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah di Arab Saudi. Ia juga mengapresiasi sinergi pemerintah Indonesia dan Arab Saudi dalam menghadirkan layanan yang lebih inklusif.
“Berbagai kebijakan dan layanan yang diberikan menunjukkan komitmen kuat kedua negara untuk memastikan seluruh jamaah dapat beribadah dengan nyaman dan aman,” ujarnya.
Selain fasilitas fisik, Anshari menilai peran petugas haji turut menjadi faktor penting dalam memberikan kenyamanan bagi jamaah disabilitas.
Ia mengaku melihat langsung sikap petugas yang responsif dan memahami kebutuhan jamaah berkebutuhan khusus.
“Saya melihat langsung petugas haji sangat responsif, sabar, sopan, dan ramah. Mereka memahami kebutuhan jamaah disabilitas maupun lansia sehingga pelayanan yang diberikan terasa sangat membantu,” katanya.
Meski demikian, Anshari menilai masih ada ruang perbaikan untuk penyelenggaraan haji pada masa mendatang. Salah satu yang menjadi sorotannya adalah pendataan jamaah penyandang disabilitas dan lansia yang lebih rinci.
Menurutnya, data yang akurat akan memudahkan petugas dalam menyiapkan layanan sesuai kebutuhan masing-masing jamaah. Ia juga mengusulkan adanya dokumen atau keterangan khusus bagi calon jamaah penyandang disabilitas sebagai dasar penyediaan fasilitas pendukung selama berhaji.
“Pendataan yang lebih spesifik sangat penting agar kebutuhan jamaah disabilitas bisa terakomodasi secara maksimal. Begitu juga dengan jamaah lansia yang mengalami demensia atau gangguan daya ingat, perlu pendampingan dan pengawalan khusus selama proses ibadah,” jelasnya.
Tak hanya itu, Anshari juga mendorong penyediaan layanan tambahan berupa tenaga pendamping dan guru bahasa isyarat untuk membantu jamaah dengan kebutuhan khusus, terutama penyandang disabilitas sensorik.
Ia berharap berbagai kemajuan yang telah dicapai dalam penyelenggaraan haji ramah disabilitas dapat terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden, Kementerian Haji dan Umrah, petugas haji, serta seluruh pihak yang telah berupaya menghadirkan pelayanan yang inklusif. Semoga pelayanan bagi penyandang disabilitas, lansia, dan perempuan terus berkembang dan semakin baik di masa mendatang,” tuturnya.
Anshari menegaskan aksesibilitas, sikap inklusif petugas, serta pendataan yang akurat menjadi tiga aspek penting yang perlu terus diperkuat guna mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji yang ramah bagi seluruh jamaah tanpa terkecuali.
M. Hariri, Media Center Haji 2026




