Madinah, jurnal9.tv – Anggota Amirul Hajj sekaligus Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, mengajak seluruh jemaah haji Indonesia untuk menjadikan pelaksanaan ibadah haji sebagai momentum membangun budaya ramah lingkungan. Salah satu langkah yang didorong adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama berada di Tanah Suci.
Menurut Prof. Ilfi, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan bagian dari nilai-nilai ibadah yang harus diimplementasikan oleh setiap jemaah. Karena itu, keberhasilan pelaksanaan haji tidak hanya diukur dari kesempurnaan menjalankan rukun dan wajib haji, tetapi juga dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan terhadap sesama manusia serta lingkungan sekitar.
“Menjaga kebersihan lingkungan itu bagian dari ibadah,” ujar Prof. Ilfi saat memberikan keterangan dalam media briefing di Kantor Daker Madinah, Kamis (4/6).
Ia mengapresiasi langkah penyedia layanan atau syarikah yang telah membagikan tumbler kepada jemaah haji Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai sebagai upaya konkret untuk mengurangi penggunaan botol air minum sekali pakai yang selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah plastik selama musim haji.
Meski demikian, Prof. Ilfi menilai penggunaan tumbler belum sepenuhnya menjadi kebiasaan di kalangan jemaah. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari masa manasik di Indonesia hingga pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.
“Budaya menjaga lingkungan harus terus kita gelorakan agar menjadi kesadaran bersama,” katanya.
Ia juga mendorong Kementerian Haji dan Umrah RI untuk memperkuat koordinasi dengan syarikah maupun otoritas Arab Saudi agar menyediakan lebih banyak fasilitas air minum isi ulang atau dispenser, terutama di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurutnya, ketersediaan dispenser akan membuat tumbler yang telah dibagikan dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga penggunaan botol plastik sekali pakai dapat ditekan secara signifikan.
Prof. Ilfi bahkan mengusulkan agar pembagian tumbler dilakukan sejak jemaah tiba di hotel-hotel pemondokan. Dengan demikian, kebiasaan menggunakan wadah minum yang dapat dipakai berulang kali sudah terbentuk sejak awal kedatangan di Tanah Suci.
“Kalau sejak awal sudah terbiasa menggunakan tumbler, penggunaan plastik sekali pakai bisa ditekan semaksimal mungkin,” ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan budaya ramah lingkungan selama penyelenggaraan haji juga dapat menjadi contoh bagi dunia bahwa nilai-nilai agama sejalan dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
Sementara itu, anggota Amirul Hajj lainnya, KH Asep Saifuddin Chalim, memberikan catatan terkait kualitas pelayanan petugas haji. Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, tersebut menilai petugas PPIH Arab Saudi telah menunjukkan kinerja yang baik karena sebelumnya mengikuti proses pendidikan dan pelatihan yang terstruktur.
Namun demikian, ia menemukan masih adanya kesenjangan kemampuan antara petugas pusat dengan sebagian petugas dari daerah yang bertugas mendampingi jemaah.
“Petugas PPIH Arab Saudi sudah melalui pendidikan dan pelatihan yang baik sehingga kualitas layanannya bisa dirasakan langsung oleh jemaah. Namun di lapangan masih ada petugas lain yang belum mampu mengimbangi standar pelayanan tersebut,” ujar KH Asep.
Catatan tersebut, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam penyelenggaraan haji pada musim-musim berikutnya, sehingga pelayanan kepada jemaah dapat berlangsung lebih optimal dan merata.
M. Hariri, Media Center Haji 2026




