Makkah, jurnal9.tv – Kebijakan pengetatan istita’ah kesehatan yang diterapkan pemerintah sebelum keberangkatan jemaah haji dinilai berhasil menurunkan angka kesakitan jemaah Indonesia selama musim haji 1447 H/2026 M.

Pelaksana Tugas (Plt) Pusat Kesehatan Haji Kementerian Haji dan Umrah RI, Dani Pramudya, mengungkapkan jumlah jemaah yang menjalani perawatan setelah puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Dani, hingga pasca-Armuzna tahun ini tercatat sekitar 210 jemaah dirawat, sedangkan pada periode yang sama musim haji 2025 jumlahnya mencapai sekitar 300 orang.

“Alhamdulillah, dengan peraturan istita’ah ini, banyak juga dilakukan seleksi di embarkasi,” ujar Dani saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan, proses pemeriksaan kesehatan yang lebih ketat di embarkasi membuat sekitar 300 calon jemaah dinyatakan tidak laik terbang sehingga tidak diberangkatkan ke Tanah Suci. Langkah tersebut dinilai efektif untuk mengurangi risiko kesehatan selama pelaksanaan ibadah haji.

“Alhamdulillah dengan pengetatan istita’ah ini, membuat angka kesakitan juga berkurang,” katanya.

Dani menambahkan, penyakit yang paling banyak dialami jemaah haji Indonesia tahun ini adalah gangguan pernapasan atau sesak napas. Kondisi tersebut umumnya dialami jemaah lanjut usia yang mengalami kelelahan akibat aktivitas fisik yang tinggi selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

“Banyak yang kecapekan sehingga akhirnya mengalami sesak napas,” jelasnya.

Selain faktor usia dan kelelahan, sebagian jemaah juga memiliki riwayat penyakit paru-paru seperti batuk kronis atau pernah menderita tuberkulosis (TBC). Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan mengalami gangguan pernapasan saat menjalani ibadah di tengah cuaca panas dan aktivitas yang padat.

Penyakit kedua yang paling sering ditemukan adalah gangguan jantung. Menurut Dani, sebagian besar kasus dipicu oleh penyakit penyerta yang telah dimiliki jemaah sebelumnya, seperti hipertensi dan diabetes.

“Jantung karena mungkin ada riwayat darah tinggi, kemudian sakit gula,” ujarnya.

Pihak kesehatan haji terus melakukan pemantauan dan pelayanan intensif kepada jemaah, khususnya kelompok lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, guna memastikan seluruh rangkaian ibadah hingga fase pemulangan dapat berjalan dengan aman dan lancar.

M. Hariri, Media Center Haji 2026