Jakarta, jurnal9.tv – Jaringan Rumahsakit NU yang tergabung dalam Asosiasi ARSINU mendukung penuh Kementerian Haji (Kemenhaj RI) yang akan mengavaluasi menyeluruh pelaksanaan haji dan memperketat syarat kemampuan melaksanakan ibadah haji (ist’tha’ah) dalam pelaksanaan musim haji mendatang. Bentuk dukungan ARSINU, salah satunya melalui disiapkannya Klinik Persiapan Haji dan Umrah di semua RSNU.

Demikian disampaikan Ketua Lembaga Kesehatan PBNU, HM. Zulfikar As’ad yang juga Ketua Umum ARSINU menyambut kepulangan kloter pertama jamaah haji di berbagai debarkasi Haji di tanah air, pada Senin (1/6). LKNU dan Arsinu mengikuti terus perkembangan dan proses pelaksanaan Ibadah Haji mulai dari persiapan, keberangkatan, saat di Haramain dan juga kepulangan jamaah Haji. Pihaknya mengapresiasi pelaksanaan Haji tahun ini, dimana data sementara menunjukkan bahwa tercatat penurunan 50% Jamaah Haji yang meninggal dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Alhamdulillah, dalam hal ini pemerintah layak diapresiasi,” tegasnya.

Gus Ufik, panggilan akrabnya, kembali menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan Menteri Haji dan Umrah RI, KH Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, yang menekankan pentingnya syarat kesehatan atau istitha’ah bagi calon jamaah haji demi meminimalkan angka jamaah wafat selama penyelenggaraan ibadah haji. Dukungan ini sebagai tindak lanjut pembicaraan Lembaga Kesehatan PBNU, Lembaga Kesehatan PWNU Jatim dan Menteri Haji RI yang memaparkan berbagai langkah pembenahan pelayanan haji, mulai sistem pendaftaran, antrian berangkat, hingga pemeriksaan dan pembinaan kesehatan jamaah sebelum, selama, dan setelah menjalankan ibadah haji.

“Kami melihat bahwa Kemenhaj telah melakukan evaluasi dari pelaksanaan haji sebelumnya dan saat ini juga tengah menerapkan kebijakan tersebut mulai dari persiapan yang intens untuk pelaksanaan tahun tahun ini, termasuk koordinasi dengan pemerintah Arab Saudi. Hal ini terlihat pula dalam mempersiapkan tim panitia Haji, pendamping Haji dan juga tim Kesehatan Haji,” terangnya sambil Secara umum, Gus mencatat kejadian sejumlah jamaah haji tidak mendapatkan kemah di Arafah atau Mina.

Dari sisi layanan kesehatan, ARSINU mendukung pemberlakuan syarat kesehatan menjadi elemen yang tidak bisa ditawar dalam proses pemberangkatan jamaah haji ke depan. Belajar dari sejumlah kasus tahun-tahun sebelumnya yang menunjukkan masih adanya kelalaian dalam proses penilaian kesehatan jamaah, dimana terdapat jamaah yang setibanya di Tanah Suci langsung sakit sehingga tidak dapat mengikuti rangkaian ibadah, bahkan kasus seorang jamaah perempuan yang melahirkan di Arab Saudi.

Hal juga menjadi catatan penting LKNU PBNU dan ARSINU, terkait tingginya angka kematian jamaah haji Indonesia dalam beberapa musim haji selama ini. Bahkan, Indonesia mendapat perhatian khusus dari pemerintah Arab Saudi, dikarenakan dari total jamaah yang meninggal pada satu musim haji, sekitar 50 persen di antaranya berasal dari Indonesia. Ini menjadi peringatan serius. Tingginya angka tersebut membuat Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi tegas agar pemerintah melakukan langkah-langkah nyata untuk menekan jumlah kematian jamaah. Karena itu juga Kemenhaj menjadikan penerapan ketat syarat kesehatan menjadi salah satu strategi utama pelaksanaan Haji kedepan.

“Saat ini, hampir semua Rumahsakit kami telah menyiapkan layanan khusus untuk mendukung kebijakan Menhaj tersebut, termasuk Klinik Persiapan Haji dan Umrah dengan layanan menjaga kesehatan dan meningkatkan kondisi calon jamaah yang terdiagnosa penyakit tertentu sehingga memerlukan persiapan khusus,” tambah Gus Ufik.

Rumah sakit ARSINU siap mendukung program Kementerian Haji dengan memastikan jamaah siap dari sisi kesehatan dan bisa melaksanakan ibadah dengan maksimal. Kami juga bekerja sama dengan PERDOKHI (Perhimpunan Dokter Kesehatan Haji Indonesia) dimana kami juga disitu, serta Lembaga Kesehatan dan Dokter-Dokter NU untuk memastikan jamaah mendapatkan pemeriksaan lengkap, perawatan, serta terapi bagi mereka yang memiliki penyakit tertentu.

Gus Ufik menegaskan bahwa Lembaga Kesehatan PBNU dan ARSINU sepenuhnya mendukung kebijakan Menhaj Kyai Irfan Yusuf yang lebih selektif dalam meloloskan calon jamaah haji. “Kami sangat mendukung ketegasan Kementerian Haji. Jamaah yang berangkat harus benar-benar memenuhi syarat kesehatan.

Pria yang juga sebagai Rektor UNIPDU Jombang ini juga menyampaikan harapan agar Kemenhaj melaksanakan evaluasi menyeluruh dari Pelaksanaan Haji tahun 2026 ini, untuk kemudian dilakukan pembenahan sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan haji kedepan dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penyelenggaraan haji terbaik, salah satu indkator pentingnya adalah dengan menekan angka wafatnya jamaah seminim mungkin. Jamaah haji Indonesia mulai berangkat dipersiapkan dalam kondisi baik dan sehat, keluarga dirumah tidak merasa was-was dengan kondisi jamaah saat disana. Jamaah dapat menunaikan rangkaian rukun ibadah haji dengan baik dan nyaman serta kembali kerumah dalam keadaan baik, sehat. (*)