Madinah, jurnal9.tv – Pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 mendapat apresiasi dari jemaah asal Jawa Barat. Salah satunya disampaikan oleh Denny Heryadi, jemaah asal Kota Bandung, yang menilai layanan haji tahun ini mengalami banyak peningkatan meski melalui perubahan sederhana.
Hal itu ia sampaikan setibanya di Prince Mohammad bin Abdul Aziz International Airport, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, sejumlah pengaturan kecil justru memberikan dampak besar terhadap kenyamanan jemaah. Ia mencontohkan penataan koper yang rapi sehingga memudahkan pengambilan, serta sistem boarding pesawat yang diatur berdasarkan warna.
“Kelihatannya sederhana, tapi dampaknya signifikan. Jemaah jadi lebih tertib dan tidak bingung,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi pelayanan petugas saat kedatangan di Madinah, termasuk penyediaan minuman bagi jemaah setelah perjalanan panjang.
“Hal kecil seperti ini sangat berarti bagi jemaah. Terlihat ada banyak kemajuan,” tambah dosen peternakan tersebut.
Selain itu, ia menilai respons cepat petugas dalam menangani kendala di lapangan menjadi nilai positif yang perlu dipertahankan.
“Ketika ada masalah, petugas langsung sigap. Ini yang harus terus dijaga,” katanya.
Meski demikian, ia menilai perbaikan tetap harus dilakukan secara berkelanjutan. Ia mengibaratkan pengelolaan layanan haji seperti konsep Kaizen, yaitu perbaikan terus-menerus secara bertahap.
“Selalu ada kekurangan, tapi harus terus diperbaiki sedikit demi sedikit,” ujarnya.
—
Transformasi Layanan Haji 2026
Penyelenggaraan haji tahun 2026/1447 Hijriah menjadi momentum penting dalam transformasi layanan haji Indonesia. Pemerintah menghadirkan berbagai pembaruan, mulai dari digitalisasi hingga integrasi sistem layanan dengan otoritas Arab Saudi.
Salah satu perubahan utama adalah pengelolaan layanan yang kini lebih terintegrasi melalui perusahaan resmi Arab Saudi atau syarikah. Sementara itu, petugas Indonesia berfokus pada pendampingan, perlindungan, dan komunikasi bagi jemaah.
Digitalisasi menjadi tulang punggung layanan, salah satunya melalui penggunaan kartu Nusuk sebagai identitas jemaah yang terhubung dengan berbagai layanan, mulai dari akomodasi hingga transportasi.
Selain itu, penerapan sistem layanan terpadu atau one stop service membuat seluruh kebutuhan jemaah—seperti tempat tinggal, konsumsi, dan mobilitas—lebih terkoordinasi.
Pemerintah juga menata sistem antrean nasional agar lebih adil, dengan rata-rata masa tunggu sekitar 26 tahun. Dari sisi akomodasi, penempatan hotel di Madinah berada di sekitar kawasan Masjid Nabawi, sehingga memudahkan akses ibadah.
Dengan berbagai pembaruan ini, layanan haji Indonesia diharapkan semakin profesional, efisien, dan mampu memberikan kenyamanan optimal bagi seluruh jemaah.




