Pasuruan, jurnal9.tv – Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Ramah Anak menggelar Pelatihan Musyrif/Musyrifah serta Halaqah Pengasuh Pesantren di Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini, Desa Ngabar, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Kegiatan yang diinisiasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) itu diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai pondok pesantren di Pasuruan Raya dan sejumlah daerah lain.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta diajak menganalisis berbagai fenomena kekerasan yang berpotensi terjadi di lingkungan pesantren melalui metode iceberg model. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi akar persoalan sekaligus merumuskan langkah pencegahan yang efektif.

Fasilitator Pelatihan Musyrif/Musyrifah, Marzuki Wahid, mengatakan pelatihan tersebut penting untuk memperkuat kapasitas para pembimbing dan tenaga pendidik dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan ramah anak.

Menurut dia, upaya pencegahan kekerasan, termasuk kekerasan seksual, harus dilakukan melalui pembenahan kebijakan, perubahan pola pikir, serta penguatan budaya pengasuhan di lingkungan pesantren.

“Peserta menyambut baik program ini dan menyadari pentingnya langkah-langkah preventif untuk menutup ruang terjadinya kekerasan seksual di lingkungan pesantren,” ujar Marzuki.

Selain pelatihan, kegiatan juga diisi dengan Halaqah Pengasuh Pesantren yang diikuti para pengasuh pondok dari Pasuruan, Malang, Banyuwangi, Jombang, hingga Bangkalan.

Fasilitator halaqah, KH Miftah Faqih, menjelaskan forum tersebut menjadi ruang dialog bagi para kiai dan pengasuh pesantren untuk menyampaikan pandangan serta keresahan mereka terhadap berbagai persoalan yang dihadapi dunia pesantren saat ini.

Salah satu isu yang mengemuka adalah pentingnya memperkuat relasi antara pengasuh, pengurus, dan santri guna mencegah munculnya berbagai bentuk penyimpangan moral di lingkungan pendidikan pesantren.

Menurut KH Miftah, seluruh elemen pesantren perlu terlibat aktif dalam membangun sistem pencegahan yang efektif dengan menempatkan santri sebagai kader masa depan bangsa yang harus dijaga dan dibina bersama.

“Semua pihak harus terlibat, baik kiai maupun pengurus, untuk melakukan langkah-langkah preventif dan menghadirkan solusi kreatif dalam menjaga lingkungan pesantren yang sehat, aman, dan kondusif bagi perkembangan santri,” kata KH Miftah.

Melalui pelatihan dan halaqah tersebut, RMI NU berharap semakin banyak pesantren yang memiliki sistem pengasuhan yang kuat serta mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak.