jurnal utama

Tradisi Rebo Wekasan Di Masyarakat – Jurnal Utama

Hari rabu terakhir pada bulan safar atau rebo wekasan dipercaya sebagian masyarakat sebagai hari nahas. untuk itulah banyak masyarakat yang melakukan tradisi ritual untuk menolak bala (bencana,musibah). ritual yang dilakukan masyarakat ini, berbeda-beda, sesuai tradisi yang berlaku di daerah masing-masing.
Masyarakat di desa mejagong, kec. randudongkal, kab. pemalang biasanya mandi di sungai mejagong. sebagian masyarakat percaya dengan mandi di sungai mejagong pada hari rebo wekasan, akan menghindarkan diri dari bala’. tradisi ini sudah berlangsung lama.
Masyarakat pemalang dan kudus jawa tengah juga mengadakan selamatan, shalat lidaf’il balaa dan pembagian air wifiq atau air rajah khusus yang diriwayatkan oleh ulama ahlul hikmah yang digunakan untuk meminta berkah dan keselamatan dari allah swt.
Selamatan yang lazim dilakukan masyarakat mejagong yaitu membauat takir atau nasi dan lauk pauk yang dibungkus dengan daun pisang, selanjutnya dibacakan do’a oleh kyai setempat dan dimakan bersama di manggis dalem. bahkan sebagian ada yang dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga.
Pada setiap bulan shafar masyarakat madura membuat tajin mera pote atau bubur merah putih. alat untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap allah swt, sebagimana nabi nuh mengungkapkan rasa syukurnya karena diselamatkan allah dari banjir bandang. Sementara di jawa juga ada tradisi ater ater jenang sapar.

Sebagian masyarakat dusun krajan, desa kelir, kecamatan kalipuro bangyuwangi, menggelar selamatan sego golong di pinggir jalan desa setempat.

Ada nilai positif dari tradisi tradisi yang dilakukan saat rebo wekasan, yaitu mengajarkan nilai positif pada masyarakat terutama keutamaan bersedekah.

loading...
Comments
To Top