features

Saya Ingin ke Mekkah Bareng Ibu, Pak!

E467DF38-7399-458B-BB6C-C86E02D9F48C
DAFTAR HAJI- Slamet dan ibunya, Atmina (57) menunjukkan bukti pendaftaran haji

Menabung 10 Tahun, Pengamen Jalanan di Probolinggo Daftar Haji

PROBOLINGGO, JURNAL9.tv- Namanya Slamet Efendy. Umurnya 30 tahun. Tak bisa baca tulis dan sehari-hari bekerja sebagai pengamen jalanan.

Sudah 10 tahun ini ia menabung. Rupiah demi rupiah uang hasil mengamen dikumpulkan. Sebisa mungkin tak habis dibelanjakan.

Untuk apa?

Slamet mendamba bisa menginjakkan kakinya di Tanah Suci Mekkah. Ia ingin pergi haji bersama Atmina (57), ibunya. Setoran Biaya Pennyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) senilai Rp 25 juta per-orang itu, dikumpulkan Slamet seperak demi seperak.

Sebelum mendaftar untuk dirinya sendiri, pemuda asal Dusun Krajan RT.03/RW.03 Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo ini terlebih dahulu mendaftarkan ibunya untuk berangkat ke Tanah Suci Makkah.

Agar uang tak habis, hasil jerih payahnya mengamen itu diserahkan kepada ibunya untuk disimpan. Setelah dirasa cukup membayar setoran BPIH barulah ia mendaftar ibadah haji untuk ibu dan dirinya.

“Saya tabung ke ibu. Sedikit demi sedikit selama sepuluh tahun. Saya daftarkan ibu dulu tahun 2018 lalu, baru saya mendaftar kemarin (Kamis, 3/9/2020-Red),” ungkap Slamet dalam Bahasa Madura.

Karena tak bisa baca tulis, pemuda kelahiran tahun 1990 ini mengajak tetangganya, Yuyun Wahyuni. Ia perlu bantuan untuk membaca dan menulis formulir pendaftaran BPIH di Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo.

“Saya yang antar, karena Slamet ini tidak bisa baca-tulis,” kata Yuyun.

Keterbatasannya dalam hal baca-tulis dan kondisi fisik serta mentalnya yang sedikit mengalami kekurangan dibandingkan pemuda normal lainnya, tidak membuat Slamet patah semangat. Mekkah menjadi tujuan pikiran dan hatinya. Sebab itu ia terus menabung untuk mendaftar haji.

Slamet sendiri tidak tamat sekolah dasar. Ia putus sekolah di bangku kelas 1 SD setelah ayahnya meninggal. Slamet akhirnya tinggal bersama ibu dan merawatnya sampai mendaftarkan ibadah haji.

Slamet menceritakan keiinginannya pergi haji berdua bersama ibunya. Jarak pendaftaran antara ibu dan dirinya itu yang terpaut sekitar 3 tahun, membuat Slamet berharap ada toleransi dari pihak terkait sehingga ia bisa berangkat haji bersama orang tuanya.

“Saya cuma ingin ke Makkah bersama ibu, Pak. Semoga bisa lebih cepat berangkatnya dan tidak berpisah sama ibu,” harapnya.

Kini Slamet terus berupaya mengumpulkan uang dari hasil mengamen, untuk melunasi sisa setoran BPIH setelah ia dan ibunya sudah mendapatkan kuota kursi pemberangkatan ibadah haji.

Pergi haji adalah memenuhi panggilan-Nya. Untuk siapa saja yang merindu dan mendamba menjadi tamu Allah dan bersujud di muka Kakbah . (ltf/shk)

loading...
Comments

BERITA POPULER

To Top