Muktamar NU

Peran Sentral Prof Nuh dan Yai Niam dalam Persidangan Muktamar NU

IMG-20211228-WA0026

JAKARTA, jurnal9.tv, NU, pada 22-23 Desember 2021 telah berhasil menyelenggarakan muktamarnya yang ke-34. Hasilnya sudah diketahui bersama, KH. Miftahul Akhyar sebagai Rais Am Syuriyah PBNU dan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Setiap muktamar memiliki dinamikanya yang khas, baik aspek teknis maupun isu-isu strategis yang dibahas.

Muktamar yang ke-34 memiliki kekhasan, karena dinamika muktamar terasa sejak sebelum pelaksanaan, mulai dari penentuan waktu penyelenggaraan. Saya termasuk orang yang beruntung dapat menjadi saksi proses penyelenggaraan muktamar. Mulai dari proses penyiapan materi hingga komunikasi informal untuk mengantisipasi masalah penyelenggaraan muktamar. Pun pada proses persidangan muktamar, mulai awal sampai akhir.

Usai penutupan, saya masih bertahan di Lampung hingga Ahad 26 Desember 2021. Berikut adalah catatan kecil saya selama menemani SC, khususnya Ketua dan Sekretaris SC Muktamar.

Ikhitar Membangun Komunikasi
Hawa panas muktamar mulai terasa saat dilaksanakannya Munas dan Konbes NU di Hotel Sahid Jakarta pada 25-26 September 2021. Sebagaimana jamak diketahui yaitu perihal penentuan waktu muktamar. Yang pada akhirnya disepakati pada pada 23 – 25 Desember 2021.

Tahap berikutnya adalah soal penentuan kepanitiaan Muktamar. Sebelum Munas, PBNU sudah menyepakati kepanitiaan Muktamar, Panitia Pengarahnya Gus Yahya Cholil Staquf, dan Panitia Pelaksananya Pak Robikin Emhas. Namun demi menjaga netralitas panitia dan efektifitas kinerja, maka disepakati adanya perombakan. Pada 20 Oktober 2021, diselenggarakanlah Rapat Khusus antara Rais Am, Ketua Umum, Katib Am dan Sekretaris Jenderal PBNU perihal komposisi panitia muktamar yang baru.

Walhasil, Rapat Khusus tersebut menyepakati 4 orang untuk memegang amanah kepanitiaan; Prof M. Nuh dan Kyai Asrorun Nian Sholeh sebagai Ketua dan Sekretaris SC. Pak Imam Aziz dan Dokter Syahrizal di posisi Ketua dan Sekretaris OC. Tanggal 27 Oktober SK Kepanitiaan secara resmi ditandatangani. Untuk mengakselerasi kinerja panitia, Kyai Niam membentuk Tim Asistensi, dan saya diberi amanah sebagai koordinatornya.

SC terus mengkhtiarkan penyelenggaraan muktamar yang guyub, teduh, dan sejalan dengan makna muktamar sebagai wadah permusyawaratan tertinggi organisasi. Sebagai wadah permusyawaratan, muktamar harus berjalan sesuai dengan spirit musyawarah. Didalamnya harus terbangun kebersamaan dan tepo seliro, sebagai sebuah harmoni. Optimalisasi untuk mencari titik temu dan menghindarkan diri dari perselisihan, pertentangan, dan syiqaq (pertengkaran). Jika memang ada perbedaan yang tidak bisa disatukan, maka ada penghormatan atas dasar tafahhum (saling memahami) dan tasammuh (mentolerir).

Dalam prakteknya, kondisi ideal tersebut bisa ternegasikan karena faktor kepentingan individu/kelompok yang bersifat subjektif. Hasil muktamar tidak jarang menyisakan luka, duka, perselihisan, bahkan perpecahan. Ini yang terus dijaga dan diantisipasi oleh Panitia. Spirit kebersamaan terus menjadi semangat dalam seluruh rapat, baik formal maupun informal.

Dalam upaya untuk terus merawat dan mengikhtarkan muktmar berjalan sebagaimana mestinya, yakni musyawarah dengan guyub dan rukun, maka SC berupaya untuk melakukan tahrir mahallin niza’: mengdentifikasi titik-titik kritis yang berpotensi menjadi masalah krusial dan memicu perdebatan. Langkah berikutnya adalah mengurai dan mencari jalan keluar, dengan stretegi al-jam’u wa al-taufiq.

Beberapa titik kritis yang teridentifikasi antara lain; (i) penentuan validasi kepesertaan, (ii) penyusunan jadwal dan lokasi sidang-sidang, (iii) penentuan pimpinan sidang; (iv) pelaksanaan laporan pertanggngjawaban, (v) penentuan AHWA dan mekanismenya, (vi) pemilihan mide formatur; serta (vii) teknis pemilihan Ketua Umum.
Untuk mengurainya, SC melalui kepemimpinan Prof Nuh dan Kyai Niam membangun komunikasi dengan beberapa pihak, khususnya yang menjadi “tim inti” calon Ketua Umum Tanfidziyah. Pertemuan antar “Juru Runding” ini dilaksanakan beberapa kali di beberapa tempat. Masing-masing diwakili oleh tiga delegasi. Ada Pak Nusron Wahid, Amin Said Husni, dan Miftah Faqih serta Ishfah Abidal Aziz. Ada juga Kyai Marsyudi Syuhud, Robikin Emhas, Andi Najmi, dan Ulil Abshor Abdala.

Dari ketujuh titik kritis tersebut, tiga diantaranya berhasil disepakati pada pertemuan pertama. Empat masalah masih alot dan ditunda. Pertemuan berikutnya, menyepakati titik krusial kepesertaan, dengan dimandatkan pada wakil-wakil Sekjen untuk menuntaskan. Dua titik krusial lainya, yaitu validasi kepesertaan dan teknis pemilihan, akhirnya “lepas” dan memicu diskusi cukup panjang di forum sidang pleno pertama. Diskusi terbatas tersebut tidak jarang dilksanakan dengan tensi tinggi, namun tetap terkendali dan terkonsolidasi. Prinsinya, lebih baik panas di dalam, tapi terselesaikan, atau setidaknya terkomunikasikan.

Mengawal Materi
Bukan hanya komunikasi formal dan informal untuk menjamin persidangan muktamar berjalan lancar yang menjadi concern SC. SC juga mengawal materi yang sudah ditugaskan kepada masing-masing penanggung jawab komisi. Rapat-rapat kordinasi pun digelar. Awalnya, salah seorang pimpinan komisi muktamar menyatakan bahwa SC itu biasanya sebagai pengarah aja, terima laporan kalau sudah beres. “Tetapi SC sekarang ini hadir mengawal dan benar-benar mengarahkan. Bahkan memfasilitasi rapat-rapat hingga konsinyering”, ujarnya. Saya pun tersenyum melihat ungkapan Sekretaris Komisi yang seluruhnya hadir dalam pelaksanaan konsinyering selama tiga hari untuk finalisasi materi.

Kegiatan bahkan difasilitasi oleh SC, tanpa membebani panitia pelaksana. Rapat-rapat konsolidasi antara SC dengan Komisi yang ditugaskan, semuanya terlaksana, termasuk memberikan timeline. Secara internal, SC juga membagi diri dalam tanggung jawab bidang koordinasi. Namun, ternyata tidak efektif. Ada yang jalan dan ada yang tidak. Maka, rapat-rapat koordinasi dan konsolidasi langsung dipimpin Ketua dan Sekretaris SC.

Strategi dan Dinamika Persidangan
Pembukaan Muktamar dilaksanakan 22 Desember di Pesantren Darussa’adah, pukul 9.00 hingga pukul 11. Usai pembukaan, sesuai jadwal, adalah Sidang Pleno I pukul 15.30 bertempat di Gedung Serba Guna UIN Raden Intan Bandar Lampung. Butuh kurang lebih dua pukulperjalanan dari Pesantren Darussaadah.

Sidang Pleno Pertama molor hampir lima jam, yang berdampak pada pergeseran agenda-agenda berikutnya. Jika tidak diantisipasi, maka muktamar dipastikan molor. Dampak lanjutnanyya adalah soal komitmen terhadap protokol kesehatan. SC harus memutar otak. Usai sidang pleno pertama, Rabu, pukul23.45, SC bersepakat untuk mengatur ulang jadwal persidangan.

Kyai Niam secara khusus rapat virtual dengan Tim Persidangan, dari penginapan masing-masing. Prinsipnya, agenda harus terus dijalankan dan Muktamar tidak boleh molor. Harus ada strategi khusus. Akhirnya disepakati skenario; (i) rapat LPJ disampaikan dengan pembatasan waktu; (ii) sidang tabulasi AHWA dilakukan secara paralel dengan sidang-sidang komisi; (iii) sidang pleno Komisi dilaksanakan secara paralel dengan Sidang AHWA.

Solusi ini bisa mengifisienkan waktu yang luar biasa tanpa memotong agenda masing-masing sidang. Demikian, solusi ini berdampak pada efisiensi waktu, tanpa mengurangi waktu pembahasan yang sudah dijadwalkan masing-masing. Skenario berjalan mulus. Tindak lanjutnya adalah mengkomunikasikan kepada OC untuk menyiapkan teknis dan perangkat pendukungnya. Alhamduillah berhasil, meski awalnya tersendat.

Jadwal tabulasi AHWA yang semula terjadwal pukul 13.00, mundur karena belum tuntasnya kepastian kepesertaan yang sebelumnya sudah dibahas, juga soal saksi pada proses tabulasi. Setelah proses diskusi, akhirnya tabulasi dimulai pukul15.00, dengan menerima seluruh saksi yang akan berpartisipasi. Solusi lanjutannya, tabulasi dilakukan dengan paralel di lima majelis, masing-masing dihadiri oleh saksi minimal 3 orang. Dengan demikian, pelaksanaanya bisa lebih singkat. Sebelum maghrib sudah bisa dituntaskan.
Bersamaan dengan itu, sidang komisi yang membahas masalah organisasi, program, rekomendasi, dan bahtsul masail waqiiyah, maudluiyyah, dan qanuniyah berhasil merampungkan pembahasannya. Bahkan, komisi bahtsul masail memulai pembahasan paralel dengan sidang pleno laporan pertanggungjawaban. Simple dan efisien, tanpa mengamputasi waktu dan mengurangi makna pembahasan.

Kamis malam (23/12/2021), pukul 19.30 dilaksanakan Sidang Pleno pengumuman hasil tabulasi AHWA yang berasal dari usulan PW/PC/PCI menetapkan sembilan nama AHWA. Setelah penetapan, pleno meminta AHWA untuk melaksanakan sidang untuk menentapkan Rais Am PBNU dengan musyawarah mufakat. Di sela- sela persidangan AHWA, dilaksanakan sidang pleno laporan hasil sidang komisi.
Sidang Pleno II dimulai yang sedianya pukul20.00 digeser ke Kamis Pukul9.00. Begitu waktu menunjukkan pukul9.00 tepat, sidang dimulai meski peserta belum kuorum. Setelah itu, sidang diskors, hingga akhirnya, penyampaian LPJ dilaksanakan 9.40. Penyampaian LPJ dan pemandangan umumnya dibatasi hingga pukul12.00. dan berjalan tepat sesuai rencana.

Manajemen Waktu dan Kekompakan
Salah satu rahasia kesuksesan penyelenggaraan muktamar ke-34 NU Lampung ini, di samping soal komunikasi informal yang dibangun oleh SC sejak awal untuk mendiskusikan berbagai masalah krusial yang berpotensi menjadi titik kritis dengan para pihak, juga soal kekompakan serta kesdisiplinan pimpinan sidang.

Prof Nuh sebagai Ketua Sidang memiliki kematangan emosional yang luar biasa, dengan pendekatan akomodatif. Sementara, Sekretaris Sidang Dr. Asrorun Niam Sholeh mampu merumuskan berbagai pandangan dengan memberi alternatif jalan keluar yang bisa diterima para pihak; dan menyodorkan dalam bentuk redaksi yang matang. Termasuk penempatannya dalam ayat atau pasal. Kyai Niam juga tidak jarang membisiki dan memberi referensi kepada Ketua Sidang terkait dengan aturan yang sudah disepakati dalam AD/ART atau Tata Tertib.

Keduanya juga disiplin soal waktu selama persidangan. Pleno pertama terjadwal pukul 15.30. pada jam tersebut, keduanya sudah duduk di meja pimpinan sidang. Sidang molor, baru rampung pukul 23.45. Itupun akhirnya dilanjutkan konsoldiasi untuk membuat skenario lanjutan agar jadwal persidangan tidak molor. Rapat ini mengharuskan Ketua dan Sekretaris SC, nyaris begadang semalaman. Paginya, pukul 9.00, sdah harus kembali mempimpin sidang. Di hari kedua, sidang pleno ke-2, dijadwalkan mulai pukul 9.00. Tepat pukul9.00 sidang pleno dibuka oleh pimpinan Sidang.

Prof Nuh dapat mengendalikan forum dengan pendekatan komunikasi publik yang baik dengan berbagai pertimbangan rasional tentang pentingnya kekompakan. Gayung bersambut, Kyai Niam mengedepankan dengan diksi-diksi keagamaan yang menyentuh sisi emosional dan spiritualitas peserta. Di sidang pertama yang sempat agak memanas dijadikan refleksi bagi pimpinan sidang untuk mengambil pelajaran.

Sebelum masuk ke sidang pleno kedua, Prof Nuh dan Kyai Niam berdiskusi. Kyai Niam menyampaikan beberapa berita media online yang menggambarkan muktamar panas dan ricuh. Akhirnya disepakati, berita media yang mengulas tentang memanasnya sidang pleno pertama dikompilasi dan ditampilkan. Yai Niam segera meng-capture berita-berita tersebut dan meminta tim asistensi untuk menampilkan ke layar besar. Prof Nuh, sebelum mempersilakan Ketua Umum PBNU untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban, mengulas secara reflektif gambar-gambar dan berita media terkait muktamar, yang diambil saat pleno pertama. Ternyata hasilnya efektif, sebagai bahan muhasabah untuk terus memperbaiki diri.

Salah satu kunci kelancaran muktamar ke-34 NU adalah panitia penyelenggaran yang berdedikasi. Panitia pelaksana memberikan support yang luar biasa. Panitia pengarah yang kompak dan saling menguatkan, di dalam dan di luar persidangan. Prof Nuh dan Kyai Niam merupakan dua sosok yang sangat dedikatif untuk suksesi muktamar. Kombinasi tokoh senior yang matang dalam mengendalikan emosi peserta, dan tokoh muda yang cerdik membaca dinamika forum dengan rumusan-rumusan alternatif. Ditambah stamina yang luar biasa.

Saya yang mendampingi keduanya dibuat “terkapar” di waktu penghitungan akhir, saat keduanya masih setia mengawal hingga akhir. Kekompakan dan saling isi antara keduanya berlanjut hingga akhir sidang pleno, yaitu penetapan Ketua Umum PBNU dan penetapan mide formatur yang merupakan sidang pleno terakhir sebelum dilaksanakan Penutupan. Semoga dicatat sebagai amal jariyah, bagian dari khidmah jam’iyyah dan mengantarkan muktamar benar-benar sebagai forum musyawarah, dengan penuh ukhuwwah.
Wallahu A’lam bi al-Shawab

Penulis: Abdullah Muhdi (Koordinator Tim Asistensi SC Muktamar ke-34)

 

 

Comments


BERITA POPULER

To Top