HUBBUL WETON

Uniknya Weton Pasangan Calon Peserta Pilkada Kota Surabaya

040322600_1438750245-pilkada-serentak-5-yos-150805

Mencermati weton (hari lahir dan pasaran) para calon kepala daerah dan wakil kepala daerah, bagi saya mengasyikkan. Ada keunikan yang muncul, seperti halnya pada pemilian presiden tahun 2014. Tahun itu yang bersaing adalah pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Tanggal penyelenggaraan pilpres 9 Juli 2014 bertepatan dengan hari Rabu Wage, jumlah neptu 11. Uniknya adalah weton kedua pasangan tersebut sama, yaitu pasangan Rebo Pon-Jum’ah Legi. Joko Widodo dan Prabowo Subianto berweton Rebo Pon, sementara Jusuf Kalla dan Hatta Rajasa berweton Jumah Legi. Dan anda menyaksikan sendiri bagaimana pertarungan keduanya yang sangat sengit. Siapapun pemenangnya adalah pasangan Rebo Pon dan Jumah Legi. Namun keunikan tersebut tidak muncul pada pilpres 2019. Hanya Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang tetap bersaing, antar Rebo Pon.

Nah, kota Surabaya ada semacam keunikan seperti itu. Tapi tidak seutuh pasangan pilpres 2014. Pasangan Mahfud Arifin-Mujiaman Sukirno adalah pasangan Selasa Kliwon-Minggu Wage, sedangkan Eri Cahyadi-Armuji adalah Jumah Pahing-Minggu Wage. Mengapa bisa seperti itu? Bagi saya bisa saja dijelaskan, bahwa kedua pasangan berusaha mencari cantolan kemenangan mengikuti weton hari pemilihan kepala daerah 9 Desember 2020. Hari itu bertepatan dengan hari Rebo Wage. Karena calon walikotanya tidak ada yang wetonnya hari Rabu atau Wage, maka wakilnya harus ada yang berkaitan dengan itu. Maka pemilihan minggu wage menjadi sangat penting. Tetapi ini hanya terkesan othak-athik-gathuk saja. Toh kedua calon wakil walikota Surabaya tersebut adalah orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Jadi saya yakin kehebatan itulah yang mendominasi jadi alasan kenapa mereka dipilih.

Dalam khazanah pemikiran orang Jawa, memang ada semacam keberuntungan “naga dina”, mengikuti hari. Jika nanti pemilihan kepala daerahnya jatuh Rebo Wage, maka orang yang ada kaitannya dengan weton ini diyakini berpeluang menang lebih besar. Ini semacam keberuntungan. Masayarakat cenderung suka pada keberuntungan. Tetapi dalam politik tidak ada keberuntungan, semua adalah melalui proses analisis dan aksi yang njlimet dan taktis.

Ada juga yang beranggapan mereka yang neptu wetonnya lebih tinggi, lebih cenderung menang. Tidak juga. Dalam hal ini neptu Eri Cahyadi lebih besar yaitu 15 (Jumah Pahing), sementara Mahfud Arifin bernilai 11 (Selasa Kliwon). Meski lebih besar Eri Cahyadi, tetapi Selasa Kliwon itu bagi orang Jawa angker lho ya. Ah, hari Jumah juga angker, apalagi kalau Kliwon. Hal-hal seperti ini yang sudah menjadi pengetahuan masyarakat.

Nah, siapa pemenangnya? Kita tunggu bersama-sama saatnya nanti.

 

Penulis: Sururi Arumbani

loading...
Comments

BERITA POPULER

To Top