Di dalam Qonun Asasi Hadrotussyeh KH Hasyim Asy’ari meletakkan satu prinsip besar yang menjadi ruh perjalanan Nahdlatul Ulama, yaitu pentingnya berjamaah dalam membangun agama, umat, dan peradaban.

Salah satu ungkapan yang sering dijadikan pijakan adalah “Yadullāh ma‘al Jamā‘ah” (يد الله مع الجماعة). Artinya, Tangan (pertolongan) Allah bersama jamaah. Kalimat ini bukan sekadar slogan spiritual, melainkan prinsip sosial dan organisasi yang sangat mendalam. Ia mengandung pesan bahwa keberkahan, kekuatan, dan pertolongan Allah akan turun kepada mereka yang menjaga persatuan, merawat kebersamaan, dan menghindari perpecahan.

Dalam tradisi NU, berjamaah bukan hanya soal shalat bersama, tetapi juga menyangkut kesatuan manhaj, adab berorganisasi, dan loyalitas terhadap keputusan kolektif. Sebab, organisasi yang kuat tidak dibangun di atas ego pribadi, tetapi di atas kesadaran bersama untuk menempatkan maslahat jamaah di atas kepentingan individu.

Hadrotussyeh KH Hasyim Asy’ari memahami betul bahwa ancaman terbesar umat bukan semata datang dari luar, tetapi dari dalam bentuk perpecahan, fanatisme golongan, dan ambisi kekuasaan yang mengabaikan adab. Karena itu, Qonun Asasi hadir sebagai peneguh arah bahwa kekuatan umat hanya akan lahir jika sanad keilmuan terjaga, kepemimpinan dihormati, dan musyawarah dijunjung tinggi.

Dalam konteks hari ini, menjelang dinamika besar organisasi seperti muktamar, kaidah “Yadullāh ma‘al Jamā‘ah” menjadi pengingat penting. Bahwa berbeda pilihan adalah hal biasa, tetapi menjaga keutuhan jamaah adalah kewajiban yang lebih utama. Kritik boleh, evaluasi perlu, tetapi jangan sampai merusak bangunan besar yang telah dirintis para muassis.

Sebab pada akhirnya, sejarah membuktikan: banyak gerakan besar runtuh bukan karena lemahnya gagasan, tetapi karena hilangnya ruh kebersamaan. Dan NU, sejak awal, berdiri di atas satu keyakinan: bersama jamaah, ada pertolongan Allah; bersama perpecahan, yang datang adalah kelemahan. Semoga bermanfaat

Surabaya, 30 Juni 2026

Oleh KH. Kikin Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Ketua PWNU Jawa Timur