Terlihat perlahan-lahan dan satu persatu warga ataupun berkelompok warga desa di sekitar sebuah bangunan sederhana yang berdiri sejak hampir 100 tahun lebih dengan halaman depan dan sekeliling yang cukup rapi mulai berdatangan.
Banyak yang datang dengan penampilan yang sangat sederhana namun dengan wajah yang memancarkan sebuah tanda ketulusan, keakraban dan persahabatan bahkan persaudaraan lambat laun menjadikan suasana lenggang berhikmad menjadi hangat, bersemangat dan sahdu mengharukan.
Apa sebetulnya yang menjadikan para warga tersebut bersemangat untuk datang ke tempat tersebut dan kebanyakan dari mereka yang datang adalah sosok lansia dan sejumlah anak-anak yang datang dari sudut-sudut sebuah desa yang bernama Desa Kaduranca yang terletak di kaki gunung Cihujan atau Gunung Rangkong. Sebuah daerah perbukitan dengan lingkungan yang cukup asri yang kini di kawasan tertentu di lereng bukit ini kini mulai dijadikan obyek wisata alam bagi publik seantero wilayah Banten dan bahkan dari luar Banten.
Warga sekitar lainnya mengetahui bahwa kedatangan mereka atas sebuah undangan pemberitahuan dari anggota masyarakat di wilayah tersebut akan ada kegiatan pembagian hewan Qurban yang pelaksanaannya akan dilakukan di sebuah bangunan yang sebagian dari mereka telah ketahui sejak di masa kecil atau remaja. Mereka pun mengetahui bahwa bangunan tersebut adalah milik seorang sesepuh warga Kaduranca Kecamatan Padarincang yang dikenal sangat ramah dan akrab dengan para orang tua mereka yang telah wafat yang sangat dekat dengan mereka sendiri.
Sosok tersebut adalah Almarhum Ki Haji Sjafawi atau yang dikenal dengan Abah Pawi. Abah Pawi ini pun memiliki istri yang tinggal di rumah tersebut yg bernama Ibu Ummi Kultsum. Warga dusun/desa ketika itu mengenal dengan nama Bu Kultsum.
Dulu ketika mereka muda, mereka menjadikan keluarga Abah Pawi dan Bu Kultsum ini sebagai tempat ngariung dan berkarya bersama untuk hal-hal yang menyangkut masalah pembinaan masyarakat dan bertanya tentang hal-hal terkait perkebunan dan pertanian serta berembuk tentang masalah pelindungan hutan sekitar G. Rangkong. Karena penduduk desa ini sangat bergantung dari kelestarian Gunung dan wilayah mereka.
Sehingga bagi mereka yang datang, sosok dan bangunan itu bak memunculkan nostalgia lama mengingat keindahan masa kecil dan remaja serta lingkungan hijau yang asri bersama para penghuni bangunan rumah itu.
Kini mereka pun menyadari bahwa waktu itu telah berlalu dan kini pun bangunan tersebut telah berubah menjadi sebuah Panti Asuhan dan Rumah Tahfiz yang diberikan nama sebagai Panti Asuhan Ummi Kultsum (PAUK) Kaduranca, Padarincang Serang, Provinsi Banten
Tak terasa di hari itu bangunan PAUK kembali diramaikan dan dihangatkan oleh suasana haru bercampur kegembiraan mengingat ini merupakan momen yang cukup jarang mereka berkumpul bersama dan kembali berjumpa dengan saudara lama mereka yg kini sudah beranak pinak.
Namun di sela itu pun mereka menyadari banyak diantara mereka ada yang sudah wafat begitupun dari keturunan mereka yg telah mendahului mereka ataupun berpisah untuk sebuah alasan ekonomi guna mempertahankan kehidupan mereka yang bisa dikatakan semakin sulit dan terbatas. Kenapa demikian, disadari upaya pelindungan hutan dan sekitar yang telah dilakukan dan dirintis oleh orang tua mulai banyak menghadapi tantangan, khususnya tantangan yang non alam dan akibat perbuatan tangan oknum manusia sendiri.
Banyak dari keturunan mereka ataupun anggota keluarga/anak/cucu mereka telah menjadi yatim/piatu.
Semakin dekat kita menyambut mereka semakin terlihat kesederhanaan mereka bahkan keterbatasan ekonomi mereka.
Namun dibalik itu, mereka semua sebenarnya membawa obat bagi jiwa-jiwa yang rapuh dan tidak sempurna dibandingkan dengan kami khususnya.
Mereka dalam kesederhanaannya menampakkan ketegaran, kegigihan dan semangat untuk terus belajar dan menjaga kehormatan hati pikiran mereka.
Dalam sebuah dialog yang dibangun, mereka saling bercerita dan membagi pengalaman serta yang paling membahagiakan adalah mereka menjaga warisan bacaan Qur’an yang senantiasa membuat hati dan pikiran mereka terjaga.
Hal tersebut semakin terungkap khususnya terkait kehidupan keseharian keluarga mereka ketika salah satu anggota keluarga atau cucu Abah Pawi dan Bu Kultsum mengajak mereka untuk berbagi pengalaman terkait kehidupan sosok pemuda dan orang tua yang renta yang hanya bergantung pada kesolehan anaknya dan di dalam upaya mereka menjaga ingatan kolektif diri dan keluarga mereka dalam menjaga hafalan-hafalan dan do’a do’a yang bersumber dari Qur’an dan hadist. Walaupun hanya surah-surah pendek.
Dalam kesenioran/keuzuran usia mereka, mereka masih mampu memperdengarkan hafalan Qur’an kepada kita semua yang hadir dan dari ke semuanya menunjukkan antusiasme untuk turut melafazkan surah-surah pendek yang tersimpan dan menjadi teman dalam kalbu dan pikiran mereka. Sehingga ketika mereka diajak utk berdialog Qur’an, mereka sangat serius seraya menunjukkan kelucuan mereka dikarenakan mimik wajah dan gerak tubuh mereka yang tidak lagi muda.
Sementara hal yang membanggakan pun terlihat dari kalangan anak-anak, banyak di antara mereka yang menunjukkan kefasihannya dengan gaya yang lucu membuat suasana bangga terpancar dari para hadirin, khususnya dari orang tua mereka yang tidak lagi mempunyai suami/istri. Mereka sbg single parent
terlihat bangga melihat anaknya bisa membaca dengan baik sehingga para hadirin terlihat gembira.
Sungguh di hari itu, yakni di Hari Raya Qur’ban 1447 H (27/05/26), putra-putri cucunda/cicinda Abah Pawi/Bu Kultsum tertuntun untuk menjadikan hari itu menjadi hari yang memberikan sebuah kegembiraan bagi para hadirin dengan hikmah dari lantunan ayat2 qur’an dan do’a kebaikan bagi para pendahulu dan orang tua kita serta seluruh anggota keluarga yang telah tiada. Mereka pun tidak lupa untuk mendo’akan bagi sesama bangsa, khususnya mereka bangsa yang tertindas dalam sebuah penjajahan, baik fisik maupun non fisik.
Mereka para warga lansia dan para yatim piatu telah memberikan obat yang hakiki dan memberikan pemahaman akan arti sebuah ibadah Qurban. Yakni, Berqurban bagi sebuah persaudaraan dan perkerabatan lintas generasi yang dibingkai dalam sebuah kesederhanaan dan kesahajaan sosok warga dusun/desa kaduranca kecamatan Padarincang Banten.
Semoga mereka tidak hanya menjadi obat bagi pengelola PAUK Ummi Kultsum tetapi juga bagi lingkungan sekitar yang tergali dan terbangun melalui Dialoq Qurban yang benar-benar telah membuka mata hati kita akan arti Qurban yang sesungguhnya. Sebuah Dialog Qurban yang memperkuat kekuatan pemikiran dan ketaatan kita atas hikmah Qurban yang diperintahkan oleh Sang Khalik melalui Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail. Wallahu’alam bi showab
Oleh Moehammad Amar Ma’ruf, Penulis Buku Katulistiwa




