Jakarta, jurnal9.tv -Generasi kelahiran tahun 2000an atau Gen Z telah menjadi wajah masa kini sekaligus masa depan Bangsa Indonesia. Dengan populasi yang besar, daya digital yang luar biasa, serta aspirasi yang progresif, mereka menjadi motor baru dalam dinamika ekonomi, budaya, dan politik. Mereka bukan sekadar konsumen yang gemar mengikuti tren, tetapi juga pencipta tren, penggerak opini publik, dan calon pemimpin yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Demikian whitepaper yang dirilis Alvara Research menandai Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2025 hari ini. Hasanudin Ali, CEO. Alvara Research mengatakan rilis ini bisa digunakan sebagai panduan untuk melihat dengan jelas beberapa benang merah ketika kita mengamati Gen Z. “Ada 4 hal penting yang perlu kita pahami dalam memahami dan memposisikan Gen Z kita,” jelas Hasan.

Menurut salah satu Ketua PBNU ini, hal pertama yang bisa kita pahami, Gen Z adalah digital-native sejati. Hampir semua aspek hidup mereka terhubung dengan internet, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga hiburan. Kedua, lanjutnya, mereka mencari makna dalam setiap hal, dari produk yang mereka beli, komunitas yang mereka ikuti, hingga pekerjaan yang mereka pilih.

Dan Ketiga, lanjut alumnus Statistik ITS ini, mereka adalah generasi yang kritis, vokal, dan berani menuntut perubahan, baik di ruang sosial maupun politik. Dinamika politik yang terjadi pada akhir Agustus lalu setidaknya menjadi alrm bagi demokrasi di Indonesia bahwa ruang digital sudah sangat menentukan. “Dan keempat, meski penuh potensi, Gen Z juga menghadapi tantangan serius, terutama soal transisi dari pendidikan ke dunia kerja, kesehatan mental, serta ketimpangan akses antara kota besar dan daerah,” tutur Hasan.

Melalui survei ini, Hasanudin mengusulkan insight dan rekomendasi strategis bagi berbagai pemangku kepentingan. Bagi dunia bisnis, Hasan menyebut kunci sukses mereka hari ini adalah otentisitas. Gen Z bisa dengan cepat membaca mana brand yang benar-benar peduli dan mana yang hanya sekadar pencitraan. “Mereka menuntut produk yang relevan dengan kebutuhan sekaligus sesuai dengan nilai keberlanjutan, keadilan, dan inklusivitas,” tegas hasan.

Bagi pemerintah, lanjut hasan, prioritas utama adalah memperkuat ekosistem transisi pendidikan, kerja melalui program magang, pelatihan berbasis keterampilan, dan dukungan kewirausahaan. Tidak kalah penting adalah memperluas literasi digital serta menyediakan layanan kesehatan mental yang ramah anak muda. “Pejabat pemerintah harus mampu membaca fenomena ini,” tuturnya.

Sementara bagi masyarakat dan komunitas, sebagaimana Nahdlatul Ulama peluang terbesar ada pada kolaborasi lintas generasi. Gen Z membawa energi baru, tetapi mereka juga membutuhkan bimbingan, ruang aman, dan dukungan nyata dari generasi yang lebih tua. “Komunitas yang mampu memberi ruang ekspresi, sekaligus menyalurkan idealisme mereka ke dalam aksi konkret, akan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya inovasi sosial,” tegas Hasan.

Memahami Gen Z

Hasanudin Ali juga mengingatkan perlunya semua piha, memahami Gen Z bukan sekadar kebutuhan analitis,
melainkan investasi strategis. Mereka bukan lagi sekadar “bonus demografi” yang dinanti-nantikan, tetapi kekuatan riil yang sudah hadir hari ini. Siapa pun, baik pebisnis, pemerintah, maupun masyarakat, yang mampu membaca denyut nadi Gen Z dengan jeli akan berada selangkah lebih maju dalam membangun Indonesia yang lebih adaptif, inklusif, dan berdaya saing di masa depan. “Meskipun sering dibicarakan sebagai satu kelompok, Gen Z Indonesia sejatinya sangat beragam. Mereka memang memiliki benang merah sebagai generasi digital-native, kritis, dan penuh aspirasi, tetapi di dalamnya terdapat segmen-segmen yang berbeda dengan karakter,
kebutuhan, dan perilaku yang unik,” terangnya.

Menyamaratakan Gen Z hanya akan membuat strategi komunikasi, produk, maupun kebijakan kehilangan relevansi.

Salah satu dimensi yang paling mencolok adalah perbedaan antara Gen Z urban dan rural. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya atau Medan, Gen Z lebih cepat menyerap tren global, punya akses lebih luas terhadap teknologi, dan cenderung lebih konsumtif. Mereka tidak segan membayar mahal untuk pengalaman, seperti konser musik, kafe estetik, atau produk fesyen yang sedang viral di TikTok.

Sementara itu, Gen Z di daerah rural menunjukkan wajah lain: mereka tetap digitalsavy, tetapi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang..”Sensitivitas harga tinggi, loyalitas terhadap brand yang relevan secara lokal, dan aspirasi untuk ‘naik kelas’ melalui pendidikan atau wirausaha menjadi ciri khas mereka,” paparnya.

Sebagaimana Survei nasional yang dilakukan Alvara Research Center pada bulan September 2025 menemukan gambaran tentang tipologi utama anak muda Indonesia. Segmentasi ini merupakan adaptasi dari teori kepribadian dan pendekatan psikografis gaya hidup (AIO/VALS) dengan menggunakan tujuh indikator utama. Temuan riset ini tidak hanya memotret perilaku, tapi juga mengupas nilai dan orientasi hidup anak muda masa kini. Tiga tipologi karakter anak muda indonesia (Gen Z dan Milenial) dari temuan riset Alvara tersebut adalah The Social Butterfly atau “Si Paling Eksis”(29.7%), The Digital Junkie atau “Si Digital Banget (42.5%), dan The Chillaxer atau “Si Santuy Abis” sebesar 27.8% (*)