Malang, jurnal9.tv -Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur melakukan takziyah dan menyantuni keluarga anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Pitono (55) yang telah wafat setelah acara Mujahadah Kubro untuk memperingati “Satu Abad NU” (1926-2026) di Stadion Gajayana, Malang, Jatim (8/2) itu usai.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Takziyah ke rumah duka di Dusun Selokerto, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jatim, Senin (9/2) sore itu diikuti ketua pelaksana Harlah 1 Abad NU yang juga wakil ketua PWNU Jatim, Prof Masykuri Bakri dan wakil ketua panitia HM Noer Shodiq Askandar, yang juga wakil ketua PWNU Jatim.

Takziyah yang diterima langsung oleh istri almarhum, dua putra/putri, serta dua mertuanya itu juga didampingi HM Daniel (PCNU Kabupaten Malang) dan KH Shonhaji (Ketua MWC NU Dau, Kabupaten Malang). Selain keluarga, tim PWNU Jatim juga ditemui dua Banser yang merupakan teman akrab dari almarhum.

“Kami bertakziyah mewakili teman-teman PWNU Jatim serta Panitia Mujahadah Kubro untuk menyampaikan duka cita kepada keluarga almarhum, sekaligus menyampaikan salam dari Ketua PWNU Jatim Kiai Kikin (sapaan Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz) agar keluarga bisa sabar menerima musibah,” kata ketua pelaksana Harlah 1 Abad NU yang juga wakil ketua PWNU Jatim, Prof Masykuri Bakri.

Dalam kesempatan takziyah yang juga menyampaikan santunan atas nama PWNU Jatim itu, perwakilan PWNU Jatim mendapatkan banyak cerita tentang almarhum dari keluarga dan teman almarhum. Di rumah duka juga telah banyak karangan bunga ungkapan duka cita dari Gubernur Jatim Hj Khofifah Indar Parawansa dan Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz.

“Almarhum bertugas di shift 1 Mujahadah Kubro mulai Sabtu (7/2) sehabis Maghrib hingga Subuh. Almarhum bertugas menyeberangkan jamaah di jalan raya di depan SMPN 6 Kota Malang, setelah jamaah yang menyeberang sudah reda, maka almarhum kemudian pindah membantu petugas di dapur umum di Pendopo Kabupaten Malang,” kata Prof Masykuri mengutip cerita keluarga dan teman almarhum.

Setelah Subuh (8/2), almarhum pulang ke rumah dan beristirahat sejenak, kemudian bangun dan melaksanakan pekerjaan sehari-hari di kebun jeruk hingga Ashar. Sejak Ashar hingga Maghrib, almarhum masih terlihat dalam keadaan sehat wal afiat.

Setelah Maghrib, almarhum ke kamar kecil hingga cukup lama, kemudian pintu diketuk pun tidak terdengar suara dari dalam, kemudian pintu didobrak dan almarhum sudah dalam keadaan tidak bernyawa, kemudian dibawa ke RSI Unisma Malang untuk memastikan kondisi almarhum dan dokter RSI pun menyatakan telah wafat.

Selain almarhum Pitono, anggota Banser lain bernama Abd Rahman juga sedang dirawat di RS setelah bertugas membantu pengamanan dalam puncak Harlah Satu Abad NU yang dihadiri jamaah yang mencapai 107.049 orang (H1 — 7/2) itu. (*/pwnujatim)