Lamongan, jurnal9.tv -Asa dan semangat kembali menyala di sentra kerajinan genting tanah liar Desa Kawistolegi, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Program ‘Gentengisasi’ yang digagas Presiden Prabowo Subianto menjadi angin segar bagi para pengrajin yang sempat terpuruk.
Program ini dinilai bukan sekadar proyek fisik, melainkan simbol keadilan sosial dan kecerdasan pembangunan untuk mendorong ekonomi kerakyatan. Bagi pengrajin lokal, ini adalah harapan untuk bangkit dari gempuran produk pabrikan.

Sebelumnya, para pengrajin di kawasan ini mengaku lesu akibat sepinya pesanan dalam beberapa tahun terakhir. Mereka kalah bersaing dengan genting pabrikan berbahan metal maupun asbes yang mulai mendominasi pasar hingga ke pelosok pedesaan.
Suraji, salah satu pengrajin yang telah menekuni usaha ini lebih dari 20 tahun, menceritakan betapa beratnya bertahan di tengah tren material modern yang dianggap lebih praktis dan murah.
“Nasib kami sempat berada di ujung tanduk. Stok genting hanya menumpuk di gudang tanpa pembeli. Banyak rekan kami yang terpaksa gulung tikar,” ujar Suraji saat ditemui di bengkel kerjanya, Rabu (11/2/2026).

Di Desa Kawistolegi sendiri, kini hanya tersisa puluhan pengrajin yang masih bertahan. Namun, sejak program Gentengisasi ini didengungkan sebagai upaya mengutamakan produk lokal dalam proyek pembangunan nasional, semangat warga kembali berkobar.
“Kami berharap implementasi program ini berjalan kontinyu. Kami ingin industri rumahan ini kembali menjadi tulang punggung ekonomi warga,” tambah Suraji.
Kini, suara mesin cetak genting tradisional kembali riuh terdengar di Kawistolegi, menandakan geliat ekonomi warga yang mulai pulih demi mewujudkan kemandirian material bangunan nasional.




