Lamongan, jurnal9.tv -Menyongsong pergantian tahun, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PR NU) Desa Dadapan menggelar agenda Refleksi Akhir Tahun yang penuh khidmat. Kegiatan yang dipusatkan di Desa Dadapan ini dirangkai dengan Doa Bersama dalam rangka Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) serta Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Panitia Hari Santri Nasional (HSN) 2025.
Acara ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial tutup buku, namun menjadi momentum strategis untuk menata langkah organisasi di masa depan melalui pelestarian sejarah lokal.
Mandat Sejarah untuk Generasi Mendatang.
Dalam laporannya, Ketua Panitia HSN 2025, Drs. Muhammad Surham, didampingi Sekretaris Suroto, S.Ag, memaparkan kesuksesan rangkaian kegiatan HSN yang telah digelar sepanjang tahun. Namun, yang menarik perhatian adalah diserahkannya rekomendasi penting mengenai agenda “Napak Tilas Perjuangan Santri Desa Dadapan Generasi Pertama”.
Rekomendasi tersebut diserahkan langsung kepada Ketua Tanfidziyah NU Ranting Dadapan, Ainur Rofiq, SH. Mandat ini bertujuan untuk menggali kembali nilai-nilai perjuangan para muassis (pendiri) NU di tingkat akar rumput agar tidak tergerus zaman.
Menanggapi amanat tersebut, Ketua Tanfidziyah NU Ranting Dadapan, Ainur Rofiq, SH, menegaskan kesiapannya. Ia menyebut bahwa penghormatan terhadap sejarah adalah ruh dari pergerakan santri.
“Kami berkomitmen penuh untuk menindaklanjuti agenda ini. Ini adalah bentuk penghargaan tinggi kami terhadap keringat dan perjuangan para santri generasi pertama di Desa Dadapan,” tegas Ainur Rofiq dalam paparannya.
Sebagai langkah konkret, NU Dadapan dijadwalkan akan segera membentuk Tim Perumus Khusus pada Januari 2026 mendatang. Tim ini akan mengemban tugas mulia untuk menelusuri jejak, mengumpulkan dokumen sejarah, hingga merangkai narasi perjuangan santri awal di desa tersebut.
Khidmah dalam Suasana Haru
Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran Pengurus Syuriah, Tanfidziyah, serta Banom NU Dadapan ini berlangsung dalam suasana haru dan khusyuk. Lantunan doa untuk Gus Dur menjadi pengingat bagi para kader akan pentingnya menjaga kemanusiaan dan merawat tradisi pesantren.
Refleksi akhir tahun ini ditutup dengan tekad bulat untuk menjadikan tahun 2026 sebagai tahun literasi sejarah bagi warga Nahdliyin di Desa Dadapan.




