peristiwa

KH Anwar Iskandar: Nasyrul Ilmi Pesantren, Tugas Maha Penting NU di Era Digital

FOTO: Kiai Anwar Iskandar Lembaga Ta'lif Wan Nasyr (LTN) Najdlatul Ulama lebih getol melakukan Nasyrul Ilmi Ad-Diny,  menyebarkan ilmu keagaman para ulama. pesantren baik di masa lalu dan saat ini.

SURABAYA, Jurnal9.tv – Khazanah keilmuan pesantren ditantang oleh jaman, untuk digalang dan disebarluaskan kepada masyarakat luas sesuai kebutuhan dan cara yang lebih sesuai. Di masa lalu, para ulama pesantren aktif dan produktif menulis dan mencipta karya keilmuan serta menerbitkannya sehongga bisa abadi sampai kini. Tugas Nahdlatul Ulama kini melalui Lembaga Ta’lif Wan Nasyr adalah Nasyrul Ilmi atau menyebarluaskan keilmuan para ulama itu, khususnya melalui media yang sesuai dengan perkembangan era digital ini.

Hal itu disampaikan oleh KH Anwar Iskandar, Wakil Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur, Pengasuh PP Ngasingan Kediri dalam kesempatan Tahlilan 40 Hari wafat KH Muhammad Zakki Hadzik, pengasuh PP Almasruriyah Tebuireng Jonbang yang juga Ketua RMI NU Jawa Timur, Ahad (9/8/2020) malam, digelar secara daring. Hadir juga dalam tahlilan virtual itu, KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur dan KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh PP Tebuireng Jombang, KH Taufiqur Rohman yang berkenan memimpin doa serta sejumlah kiai, keluarga dan aktivis sejawat Almarhum.

Gus Zaki –panggilan akrabnya– wafat pada 1 Juli 2020 di tengah kesibukan pesantren-pesantren di Jawa Timur menyambut kembalinya santri pasca libur panjang pandemi covid19.

Saat memberi arahan, Kiai Anwar menilai Gus Zaki sebagai sosok terbaik untuk dijadikan model bagaimana seharusnya pesantren melakukan nasyrul ilmi, menyebarluaskan khazanah keilmuannya. Melalui Kitab Irsyadus Sari, kumpulan tulisan ilmu karya kakeknya, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ary, Gus Zaki menyambungkan pesantren dan generasi hari ini dengan sanad dan kedalaman ilmu ulama besar pesantren di masa lalu.

“Almarhum getol dan sangat antusias menyebarkan ilmu hadratus syekh dan begini inilah yang penting dilakukan NU, baik melalui RMI sebagai asosiasi pesantren maupu lembaga ta’lif wan nasyr,” tegas Kiai Anwar.

Sebagaimana diketahui, Kitab Irsyadus Sari berisi 19 kitab karangan Hadratus Syekh Haayim Asy’ary yang dikumpulkan, diverifkasi, dikompilasi, diberi makna jawa pegon ala pesantren oleh Almarhum KH Ishom Hadzik, kakak Gus Zaki. Kitab ini kemudian diterbitkan oleh Keluarga Pesantren Tebuireng dan disebarkan serta dikaji di berbagai pesantren.

Di antara Kitab Mbah Hasyim yang ada dalam kitab Irsyadus Sari adalah Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim, Risalah ahlus sunnah wal jama’ah, Muqaddimah Qanun Asasi serta Kitab Ziyadatut Ta’liqat Ala Mandzumah Asyyekh Abdullah bin Yasin Albasuruani. Kitab terakhir ini unik, karena berupa catatan ilmu yang mendalam dan klarifikasi Hadratus Syekh terkait polemik dengan KH Abdullah Yasin Pasuruan tentang Jam’iyyah NU dan warganya yang disebut sebagai Ahlun Nahdlah.

Sementara itu, KH Marzuki Mustamar menyampaikan Pesantren adalah inti dari Nahdlatul Ulama. Andai semua pengurus NU tidak aktif bahkan mati tetapi pesantren tetap kuat dan berkembang, insyaAllah NU akan tetap kuat dan berkembang. Sebaliknya, bila pengurus NU kuat tapi pesantren khususnya pesantren salaf mati, maka NU tidak akan kuat.

“Sebagai ketua RMI, Gus Zakki tahu betul, apa yang harus dilakukan untuk memperkuat pesantren, yakni menyambung kuat pesantren dengan ilmu dan ulama salaf sebagaimana melalui Kitab Irsyadus Sari Li hadratus Syekh Hasyim Asy’ary ini ” sambungnya.

Gagasan menggelar Dauroh Santri Muassis NU yang diprakarsai Almarhum Gus Zaki di PP Siwalan Panji Sodoarjo lalu menurut Kiai Marzuki merupakan PR besar bagi NU dan RMI yang harus terus dilanjutkannya. (hkm/*).

loading...
Comments

BERITA POPULER

To Top