Surabaya, jurnal9.tv -Wacana kesetaraan gender menjadi isu utama dalam agenda prioritas organisasi yang dilakukan Pimpinan Wilayah Fatayat Nahlatul Ulama Jawa Timur dengan menggelar Training of Trainer Sekolah Inklusi Perempuan yang berlangsung di Hotel Bumi Surabaya, pada Jum’at-Sabtu (11-12/10/24).
Siti Maulidah Ketua PW Fatayat NU Jatim menyebut, kendati isu Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial merupakan agenda prioritas yang dituangkan dalam Visi Misi Organisasi, namun belum menjadi gerakan yang masif di tengah kelompok minoritas.
“Isu Gender, disabilitas dan inklusi sosial ini masih relatif baru di tengah masyarakat dan belum menjadi wacana massif dalam memperjuangkan keadilan bagi kelompok minoritas seperti yang digalakkan PW Fatayat NU Jawa Timur” ungkapnya.

Sehingga dengan adanya TOT Sekolah Inklusi Perempuan tersebut menurut Siti Maulidah, dapat menjadi penguatan kepemimpinan Perempuan dalam mempromosikan moderasi beragama dan kebebasan beragama.
“Gedsi menjadi penting sebagai pintu masuk dalam penguatan kepemimpinan Perempuan” kata Siti Maulidah.
Menurutnya, pemahaman Gedsi akan memberikan keluasan perpektif bagi pemimpin Perempuan untuk memperhatikan kelompok rentan seperti Perempuan, disabilitas maupun kelompok inklusi sosial yang seringkali mengalami ketidakadilan.
“Pemahaman Inklusif ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun berorganisasi bagi seluruh kader Fatayat NU Jawa Timur” ujar nahkoda baru Fatayat NU Jatim tersebut.
Sebanyak 30 Peserta TOT Sekolah Inklusi Perempuan yang berasal ari pengurus Fatayat tingkat PW dan Perwakilan PC ini juga dibekali modul Sekolah Inklusi Perempuan sebagai panduan saat menjadi trainer didaerah asal.
“Pengarusutamaan Gedsi dalam organisasi Perempuan muda NU ini akan membawa arah baru gerakan PW Fatayat NU Jawa Timur dalam menjalankan misi organisasi” pungkasnya.
Sementara itu, Siti Hanifah fasilitator dalam Sekolah Inklusi Perempuan tersebut mengajak peserta untuk membongkar “conscious bias” yang masih melekat jika ingin menjadi pemimpin Perempuan yang memiliki kepekaan terhadap isu Gedsi.
“Dalam Islam, Gedsi ini juga telah menjadi perhatian sejak kehadirannya, sehingga kepekaan dan kepedulian kita ini menjadi bagian penting didalamnya” ujarnya.
Senada dengan Siti Hanifah, Fasilitator lainnya Nabiela Naily menegaskan bahwa Islam sangat konsern terhadap pembelaan Perempuan
“Kaum mustad’afin yang bisa disebut sebagai kelompok sosial inklusi serta sangat memperhatikan orang-orang yang memiliki kondisi spesial atau disabilitas” ujar Akademisi UINSA Surabaya ini.
Diakhir sesi, Tedi Khaliludin menegaskan prinsip agama yang rahmatan lil aalamin harus di implementasikan dengan transformasi Gerakan berkeadilan bagi kelompok lemah yang dilemahkan seperti perempuan.
“Kader Fatayat NU sebagai bagian dari pemimpin Perempuan harus mampu menstranformasikan “Islam sebagai Rahmat” dalam kehidupan nyata”, tegasnya
Untuk diketahui, TOT Sekolah Inklusi Perempuan tersebut merupakan bagian kegiatan INKLUSI yang dilaksanakan oleh Konsorsium INKLUSi yang beranggotakan INFID, Setara Institut, PW Fatayat NU Jawa Timur, PW Fatayat NU Jawa Barat, Yayasan Inklusif, Ma’arif Institut, Media Link dan UNIKA Soegijapranata.