Jakarta, jurnal9.tv -Jaringan Gusdurian menghelat acara Temu Nasional di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta 30-31 Agustus 2025. Dalam acara tersebut para kader Gusdur diajak sharing dan berdialog dengan para rektor yang tergbung dalam Forum Rektor di bawah Kementrian Agama RI. Beberapa rekomendasi dihasilkan dalam diskusi Forum Rektor tersebut, yaitu:
Mengembangkan Gerakan Nasional Ekoteologi Berbasis Kampus
Dalam beberapa tahun terakhir, krisis global yang mengancam umat manusia semakin nyata. Dehumanisasi, konflik yang mengorbankan kelompok rentan, dan kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim semakin dirasakan. Persoalan ini bukan hanya masalah satu bangsa atau satu agama, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh umat manusia.
Deklarasi Istiqlal 2024, yang ditandatangani oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. Nasaruddin Umar dan Paus Fransiskus menjadi momentum penting yang menegaskan nilai Pancasila sebagai fondasi etik dan spiritual. Deklarasi Istiqlal dan tindak lanjutnya dalam The Bali Interfaith Movement (BIM) pada Gelaran Tri Hita Karana Forum di Bali, 14–15 Desember 2024 menegaskan bahwa agama memiliki mandat moral untuk merawat martabat kemanusiaan dan menjaga kelestarian bumi. Agama tidak boleh diinstrumentalisasi untuk kekerasan, melainkan harus menjadi sumber kasih sayang, rekonsiliasi, solidaritas, serta perlindungan ekologis.
Merespons hal ini, Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan bersama para akademisi dan Jaringan Gusdurian pada Temu Nasional Jaringan Gusdurian di Asrama Haji Pondok Gede, 30-31 Agustus 2025, menyerukan penguatan gerakan ekoteologi dan kurikulum berbasis cinta sebagai tindak lanjut nyata, sebagai berikut:
Menjadikan keadilan ekologi sebagai prioritas kampus dengan mengarusutamakan kebijakan, kurikulum, dan program tindak lanjut dari Deklarasi Istiqlal dan The Bali Interfaith Movement 2024. Kami meyakini bahwa pelestarian lingkungan adalah panggilan spiritual keagamaan yang niscaya bagi terciptanya kehidupan yang sehat, adil, damai, dan harmonis.
Mendorong lahirnya generasi “insan kamil” yang memiliki kesadaran relasi antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Prinsip keadilan ekologis antargenerasi harus ditegakkan agar bumi tetap lestari dan maslahat bagi generasi selanjutnya.
Membangun sinergi antara perguruan tinggi keagamaan dengan masyarakat sipil, dalam hal ini Jaringan Nasional Gusdurian, Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, Sains, dan Teknologi (Diktiristek), serta lembaga-lembaga global melalui agenda kolaboratif yang mutualistik untuk menjawab krisis ekologis dan dehumanisasi yang tengah berlangsung, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.
Merumuskan prototipe green campus menuju zero waste society dengan mengintegrasikan pendekatan agama, kearifan lokal, dan teknologi ramah lingkungan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan dengan indikator: [1] Tata ruang dan infrastruktur ramah lingkungan, misalnya adanya ruang terbuka hijau, area resapan air, area hutan dan vegetasi kampus; [2] Penggunaan energi dan perubahan iklim, misalnya pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi, [3] Pengolahan sampah dan air, misalnya daur ulang sampah, konservasi air, efisiensi penggunaan air, dan pengolahan limbah, [4] Transportasi ramah lingkungan, misalnya mengurangi transportasi BBM, perbanyak fasilitas pejalan kaki dan pesepeda, [5] Pendidikan dan penelitian responsif lingkungan, misalnya penguatan mata kuliah, riset, dan publikasi terkait isu ekologi.
Mendukung internalisasi kesadaran ekologis, spiritualitas kasih, dan relasi harmonis dalam pembelajaran di kampus dan masyarakat sebagai implementasi dari ekoteologi dan kurikulum cinta Kementerian Agama.
Pondok Gede Jakarta, 30 Agustus 2025