Madiun, jurnal9.tv -Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengadakan turun ke bawah (turba) dan silaturrahmi ke enam kota/kabupaten di Mataraman Barat yang dipusatkan di Graha PCNU Kota Madiun, Ahad (1/2).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tim Turba PWNU Jatim yang datang adalah KH. Abdul Matin Djawahir dan KH. Mustaqim Basyari (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur), KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH. Ishari Shofwan, KH. Yahya Badrus Sholeh, Drs. KH. Taufiq Djalil, Prof. Dr. H. Masykuri Bakri, Prof. Babun Suharto, Dr. H. Nurul Huda, H. Fatchul Aziz dan H. Taufik Mukti.

Tim PCNU antara lain Dr KH Musthofa (Rais Syuriah PCNU Kabupaten Madiun), Dr KH Moch Munir (Ketua PCNU Kabupaten Madiun), KH Syamsul Ma’arif (Rais Syuriah PCNU Kota Madiun), KH Izzuddin (Ketua PCNU Kota Madiun), KH Abdullah Umar (Rais Magetan), KH Susanto Khoirul Fatwa (Ketua Magetan), KH Ibnu Salam (Rais Pacitan), KH Sutrisno (Ketua Pacitan), Prof Dr A Mustaqim (Rais Ngawi), H Rudi Tri Wahid (Ketua Ngawi), KH Sholihan Al-Hafidz (Rais Ponorogo), Dr KH Idham Musthofa (Ketua Ponorogo).

“Kenapa kok harus ada Turba? Karena NU didirikan untuk berkhidmah, organisasi yang dibentuk untuk menjadikan keutuhan (biarwahin waajsadin) atau menyatukan ruh masyarakat untuk Bersatu,” kata Gus Kikin.

Apalagi, setiap PC sudah memiliki nilai pendidikan, kesehatan, sertifikasi wakaf, bidang sosial, yang sangat banyak kebermanfaatan untuk umat. “Barangkali kita juga perlu muhasabah diri, agar senantiasa keaktifan kita semua ini dalam mengurus NU bisa diridhoi Allah SWT,” katanya.

Menurut dia, NU sejak berdiri pada 1926 berupaya menggalang persatuan, diantaranya mengajak ormas Islam untuk bersatu dalam pertemuan di Tebuireng, sehingga tujuh organisasi besar bergabung dan terbentuk kekuatan (21 September 1937), memprotes subsidi sekolahan Kristen lebih besar, donor darah kepada Belanda NU dan Ormas lainnya, termasuk Haji yang terlalu dibatasi.
“Jadi, NU membangun kekuatan sipil dan membentuk kekuatan tersendiri (1938), jadi turba atau silaturrahmi ini sangat penting bagi NU untuk menyatukan kekuatan membangun Bangsa dan Negara,” kata pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang itu.

Dalam laporannya, PCNU Kabupaten Madiun menyampaikan perlunya ada Fasilitas Kesehatan dan PCNU ⁠sudah menyediakan lahan/tanah. Selain itu, perlunya. pengembangan kampus STAINU. Sementara PCNU Kota Madiun melaporkan pemekaran ranting, BMT, pendidikan NU yang sudah dilakjukan, termasuk bekerja sama dengan Lazisnu untuk beasiswa pendidikan.

Dari PCNU Magetan melaporkan peningkatan Ekonomi dalam pembukaan lima cabang BMT NU yang bergabung dengan BMT Sumenep, perlunya pembentukan yayasan pendidikan untuk SD dan SMP yang didirikan LP Ma’arif. Selain itu, PCNU me⁠rencanakan pemindahan Kantor PCNU dengan urunan bersama tanpa minta bantuan pemerintah. Program lain pembentukan 217 ranting atau kurang 18 ranting lagi, serta ⁠Program Wakaf 117 bidang.

Untuk Ngawi, PCNU setempat melaporkan pembelian tanah tapi baru terkumpul dana Rp24 juta, sedangkan bidang pendidikan sudah ada IAINU, namun ada tiga MWC yang belum mempunyai kantor, sehingga menjadi “PR” bagi kepengurusan saat ini. Selain itu, PCNU juga merencanakan pendirian klinik.

Sementara itu, PCNU Ponorogo memiliki RSU Muslimat yang dikelola bersama PCNU, lalu membangun Gedung KH. Abdurrahman Wahid 7 lantai yang kini sudah jadi. PCNU Ponorogo juga sudah memiliki 952 lembaga pendidikan milik NU dan tanah sudah bersertifikat sebanyak 2.370 areal.

Untuk PCNU Pacitan dilaporkan 95 persen warga Pacitan adalah NU, meski jarak dari MWC (kecamatan) ke MWC lainnya sangat jauh, namun ⁠kaderisasi sudah berjalan 37 angkatan. (*/pwnujatim)