Dalam kurun 2 dekade ini, berbagai wilayah di Indonesia dan di berbagai belahan dunia mengalami serentetan peristiwa bencana alam yang telah menimbulkan berbagai korban dan kerugian materi. Kejadian itu berkisar dari bencana alam yang berskala kecil, menengah hingga besar.
Di Indonesia tercatat adanya banjir di pedesaan dan perkotaan, tsunami di Aceh dan Pulau Nias, tsunami di Selat Sunda akibat reruntuhan dinding gunung Anak Krakatau, gempa di Lombok, gempa dengan liquifaksi dan gelombang tsunami di Palu Sulawesi Tengggara dan longsor di Provinsi Papua serta yang paling akhir dan berdampak hingga kini adalah Bencana Hidrologi dan Ekologis di Pulau Sumatera mencakup Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Sementara di berbagai belahan dunia lainnya pun pemberitaan bencana alam menghiasi berbagai media baik cetak maupun elektronik, antara lain sebut saja seperti banjir di Kerala (India), letusan Gunung Fodeo Guetamala yang menimbulkan ratusan korban jiwa dan jutaan orang terdampak, dan banjir di Jepang Barat dan banyak lagi di daerah lainnya.
Ironisnya, sementara penanganan dan manajemen bencana dilakukan, dunia pun kini menyaksikan berbagai peristiwa kekerasan yang menghiasi perkembangan yang sudah mengancam keamanan dunia menambah upaya penanganan bencana semakin kompleks dan rumit. Konflik dan peperangan sedang melanda di wilayah Eropa, seperti Rusia vs Ukrainia, Penyerangan AS ke Venezuela, dan yang paling lama di wilayah Timur Tengah adalah pendudukan ilegal tentara Israel di sejumlah wilayah Palestina dan negeri Arab lainnya, pun menambah deretan permasalahan terhadap ancaman bagi perdamaian dunia dan kelestarian alam sekitar.
Bila difokuskan tentang peristiwa bencana di Indonesia, penanganan bencana di Indonesia tidaklah mudah. Indonesia adalah negeri kepulauan dengan topografi daerah yang berbukit- bukit dan banyak ditemukan pegunungan disertai iklim yang khas negeri khatulistiwa dengan curah hujan yang cukup, membuat tanah Indonesia menjadi negeri yang subur dengan berbagai sumber daya alam, baik yang berasal dari perairan maupun dari daerah daratan (pertanian/perkebunan/hutan). Indonesia pun dikaruniai dengan luas perairan nya yang hampir mencapai 2/3 dari wilayah Indonesia dan hutan tropis nya menjadikan posisi Indonesia sangat penting di mata dunia. Dunia melihat Indonesia sebagai pasak bumi dan paru-paru dunia. Sehingga bila ekosistem Indonesia rusak baik darat dan lautnya, maka secara langsung dan tidak langsung ini akan berdampak pada kawasan dan dunia.
Di Indonesia, salah satu bentuk bencana alam, yakni gempa dan gunung meletus, seringkali diartikan bahwa letak geografis Indonesia di atas alur Cincin Api (ring of fire) yang selalu bergerak. Pergerakan ini mengandung/menjadi potensi terjadi gempa-gempa di masa mendatang dan gunung meletus. Di sisi lain, untuk bencana-bencana banjir disebabkan oleh berbagai hal teknis terkait curah dan media di bawahnya yang tidak sesuai kapasitas hingga gaya hidup yang kurang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan. Dalam situasi demikian, diyakini bahwa pemerintah pusat dan di daerah beserta jajaran nya di masing- masing negara melakukan berbagai cara untuk meminimalkan jatuhnya korban dan kerusakan materi yang tidak sedikit.
Pertumbuhan penduduk di negeri ini yang telah mencapai jumlah 284,4 juta di tahun 2025 (Duk capil BPS) ini dan penduduk dunia sesuai laporan PBB tahun 2025 diperkirakan mencapai hampir 8,23 miliar dan akan meningkat menjadi 8,6 miliar pada tahun 2030, 9,8 miliar pada tahun 2050 dan 11,2 miliar pada tahun 2100. Tentunya akan semakin menekan kepada bumi sehingga bumi pun bereaksi dalam bentuk berbagai tingkat kritis sumber daya alam dan kualitas hidup dan lingkungannya.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperkirakan ledakan penduduk akan memberikan penekanan terhadap lahan dan tiap manusia butuh ruang untuk hidup, bekerja, serta lahan yang subur untuk menanam sumber pangan. Manusia juga butuh air dan energi supaya tubuhnya tetap hangat, serta listrik untuk menerangi jalan di malam hari. Kebutuhan lainnya, yaitu jalanan dan ruang hijau untuk taman. Buat masyarakat yang lebih beruntung, mereka bisa menikmati ruang tambahan seperti tempat hiburan dan ruang untuk mengisi waktu luang. Apabila penduduk sudah terlalu padat, pemenuhan kebutuhan tersebut jadi masalah. Tanpa ada penataan ruang, persoalan ruang hidup ini akan terus menumpuk dan semakin sulit dihadapi seabad ke depan.
Konsekwensi yang tidak terhindarkan pada masa-masa pertumbuhan penduduk seperti ini adalah bagaimana para pemangku kepentingan baik dari kalangan pemerintah maupun nonpemerintah dapat mengatasi pertumbuhan penduduk yang tinggi ini terkait pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan penduduknya. Ini merupakan pekerjaan yang tidak ringat bahkan sangat berat di dalam upaya mewujudkan keseimbangan alam dan pembangunan manusianya sendiri.
Di Indonesia dan di belahan dunia manapun, tingkat penyebaran penduduk yang terkonsentrasi pada satu atau beberapa pulau tertentu dan tidak merata bisa mendorong terjadinya eksploitasi sumber daya alam. Ini menjadi suatu permasalahan sosial tersendiri. Permasalahan tersebut awalnya berwujud persaingan di dalam mencari pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan papan hingga apabila tidak bisa teratasi akan bergesekan yang bisa suatu waktu menjadi konflik dengan dalih untuk menguasai sumber- sumber daya alam yang masih melimpah sekaligus pasar bagi penyebaran berbagai produk mereka yang langka dikarenakan bahan baku yang menopang juga semakin menipis.
Adanya bencana-bencana di masyarakat perkotaan atau di pedesaan seperti banjir dibarengi tanah longsor serta kelangkaan air bersih dikhawatirkan akan menjadi rutinitas sementara cara penanganan para aparatur dan apresiasi masyarakat terhadap lingkungan sekitar sangat rendah. Dalam situasi demikian, sinergisme yang harus segera terbangun dari semua lapisan di dalam masyarakat dan aparatur pemerintahan serta lembaga terkait lainnya di Indonesia adalah kesadaran di dalam menjaga kualitas, kesehatan dan keseimbangan alam sekitarnya.
Semua elemen bangsa Indonesia baik pemerintah maupun non pemerintah harus terus menerus mawas diri, saling mengawasi dan mengevaluasi diri serta dalam tingkatan tertentu perlu diberikan sok terapi yang berkeadilan tentang pentingnya menjaga kualitas lingkungan hidupnya secara bersama-sama untuk mengupayakan tercipta nya karakter manusia
Indonesia yang ramah terhadap lingkungannya. Sehingga masyarakat atau pun aparat Indonesia sendiri tidak liar di dalam memanfaatkan potensi lingkungan alam sekitarnya.
Bangsa ini patut berlapang dada untuk memperbaiki kesalahan mengingat Indonesia dipandang tidak begitu cepat/masih kurang kesadaran di dalam menjaga kualitas lingkungan alam sekitar. Sesuai data KLH di tahun 2025, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup diproyeksikan meningkat menjadi 76,49, naik dari 73, 53 di tahun 2024. Di lingkup dunia, berdasarkan catatan Environmental Performance Index/EPI yang dirilis oleh Yale University dan Columbia University peringkat Indonesia berada pada peringkat 163 dari 180 negara dengan skor 33,6. Indeks tersebut berdasarkan beberapa indikator diantaranya kualitas udara, iklim, energi, tutupan hutan, dan pengelolaan air.
Sementara ketidak acuhan ini terjadi, untungnya masih terdapat gerakan-gerakan budaya dalam masyarakat yang tidak mati/padam di dalam menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan hidupnya yang dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga teknis beserta pemerhati lingkungan dan energi lainnya, antara lain pemanfaatan pohon jenis palem seperti Aren (program desa mandiri berbasis Aren) dan limbah Jerami sebagai bahan untuk menghasilkan pangan dan energi bersih dan program-program pemberdayaan masyarakat lainnya.
Secara global, kesadaran seperti ini dirasakan semakin menguat dengan penemuan efek negatif dari berbagai cara pemanfaatan green house development di berbagai perkotaan di dunia yang dengan efek rumah kaca dapat membuat lapisan ozon pelindung dari sinar matahari semakin menipis. Dampak dari peristiwa ini juga semakin meningkatkan suhu bumi yang bila menjadi di atas 2 derajat yang dapat membawa bencana besar bagi dunia yang ditandai dengan mencair nya daratan es di kutub.
Sikap positif tersebut dilanjutkan dengan upaya untuk menyelamatkan bumi (save earth) dan penolakan terhadap pola-pola pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Walaupun masih ditemukan konservasi-reservasi di kalangan pimpinan dan masyarakat dunia dengan dalih mereka butuh pembangunan fisik mereka walau dalam pelaksanaannya kurang memenuhi standar lingkungan hidup yang sehat.
Dalam konteks ini, dalam kurun waktu 4 tahun lagi, dunia akan menagih komitmen Sustainable Development Goals/SDG 2030 dengan 17 tujuan/goals. Untuk turut mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, partisipasi aktif seluruh elemen bangsa Indonesia sesuai dengan bidang-bidangnya masing-masing sangat diperlukan guna memperkuat komitmen pelaksanaan dari setiap kesepakatan internasional melalui suatu pola antisipasi dan penanganan bencana yang terpadu yang meliputi aspek kebijakan politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan kependudukan serta pengamalan norma agama.
Perkembangan di atas seakan-akan menjadi unfinished job bagi generasi saat ini dan mendatang guna mendukung tercipta nya perdamaian dunia dan pelestarian lingkungan hidup. Keterpaduan dan sinergitas penanganan antara sikap kepemimpinan pemerintahan dan masyarakat yang siap berkontribusi untuk dapat melakukan pencegahan-pencegahan terhadap upaya terjadinya bencana di segala lapisan dan wilayah sangat diperlukan.
Salah satu bentuk yang perlu di apresiasi adalah kegiatan Pameran Arsip dan Dokumentasi tentang Pengelolaan Bencana Alam yang pernah diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri di tanggal 9-13 Mei 2011 di Gedung Arsip Kemlu Kreo yang berhasil terselenggara atas dukungan pimpinan Kemlu dan para Arsiparis Kemlu yang telah dihadiri oleh para perwakilan ANRI, BNPB dan masyarakat dan pelajar sekitar. Pameran tersebut merekam peristiwa solidaritas nasional dan internasional serta memperlihatkan empati yang besar terhadap para korban bencana Tsunami yang melanda Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Pulau Nias yang telah menelan korban k.l. 200 ribu jiwa dengan materi yang tidak ternilai.
Apresiasi yang sangat tinggi pun patut disampaikan terhadap kegiatan serupa lainnya yang diperlihatkan oleh berbagai kalangan baik pemerintah, non pemerintah bahkan perorangan yang senantiasa memberikan perhatian dan bantuan baik dalam lingkup bencana non alam antara lain seperti yang terjadi di bumi Palestina maupun bencana ekologis dan hidro yang menimpa wilayah Sumatra dan daerah lainnya di Indonesia di akhir tahun 2025 ini. Potret ini dengan segala rasa empati direkam oleh Arsiparis Kemlu (dibawah dukungan Sdr. Lilik Buono dkk) dalam video singkat berikut.
Dari kegiatan ini semua insan diingatkan bahwa upaya mitigasi yang terkoordinasi melahirkan suatu capaian yang dapat meredam kesedihan berkepanjangan dan menjadi alat perekat dan penguat kerja sama serta penguatan diplomasi kemanusiaan dengan berbagai pihak di dalam upaya mewujudkan dunia yang lebih aman dan sejahtera yang selalu menghargai dan menjaga kelestarian lingkungan hidup sekitar. Wallahu’alam bi showab. (**)
*) Oleh Moehammad Amar Ma’ruf, Diplomat Karir, Penulis Buku Katulistiwa, Alumni Angkatan II PS-KTTI Universitas Indonesia (UI)




