Jakarta, jurnal9.tv -Dalam rangka mempersiapkan petugas haji yang tangguh, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mengasah mental Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 dengan latihan semi militer.
Hal itu penting untuk menyiapkan karakter, mental dan fisik petugas haji tang tangguh karena ibadah haji bukan sekadar kegiatan keagamaan biasa melainkan juga menuntut ibadah fisik.
Menyadari besarnya tanggung jawab tersebut, Pendidikan dan Pelatihan PPIH 2026 dilakukan semi militer dalm rangka pembentukan karakter petugas haji agar memiliki sikap tegas, tangguh, disiplin, dan berjiwa melayani.

Pola pelatihan tersebut mencakup pembinaan fisik, baris-berbaris, penguatan mental, serta penanaman nilai kepemimpinan dan kerja sama tim.
Sebelumnya, Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan jika Diklat PPIH 2026 merupakan yang terpanjang dibandingkan dari sebelum-sebelumnya.
“Pelayanan jemaah haji di Tanah Suci nanti akan sangat kompleks. Makanya calon petugas haji kami diklat selama 20 hari dengan semi militer,” katanya.

Tujuannya, menurut Dahnil agar petugas haji siap secara fisik dan mental dalam segala medan. Diantaranya mulai kepadatan jemaah, cuaca ekstrem, perbedaan budaya, hingga potensi situasi darurat yang membutuhkan respons cepat dan tepat.
Maka dari itu, petugas tidak cukup hanya dibekali pengetahuan teknis, tetapi juga harus memiliki ketahanan mental dan kedisiplinan yang kuat,” tambahnya.
Melalui latihan semi militer, petugas dibiasakan dengan pola kerja terstruktur, kepatuhan terhadap komando, serta kemampuan mengendalikan emosi dalam tekanan. Nilai-nilai ini dianggap penting untuk menjaga kualitas pelayanan sekaligus memastikan keselamatan jemaah selama seluruh rangkaian ibadah haji.
Sementara Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kemenhaj, Chandra Sulistio Reksoprodjo menegaskan bahwa pendekatan semi militer bukan dimaksudkan untuk menjadikan petugas bersikap kaku, melainkan membangun karakter profesional yang siap melayani dalam kondisi apa pun.
“Petugas haji adalah representasi negara. Mereka harus disiplin, sigap, dan mampu bekerja secara kolektif demi kepentingan jemaah,” ujarnya.
Selain pembinaan fisik dan mental, Diklat PPIH 2026 juga dilengkapi dengan materi kebijakan perhajian, etika pelayanan, manajemen krisis, serta simulasi penanganan masalah di lapangan. Simulasi tersebut mencakup penanganan jemaah sakit, jemaah tersesat, hingga kondisi darurat yang memerlukan koordinasi lintas sektor.
Kemenhaj berharap, dengan kombinasi pelatihan teknis dan latihan semi militer, petugas haji 2026 mampu memberikan pelayanan yang lebih humanis, profesional, dan berorientasi pada kenyamanan serta keselamatan jemaah. Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya peningkatan kualitas penyelenggaraan haji Indonesia agar semakin tertib, aman, dan bermartabat.
Latihan semi militer pun menjadi simbol keseriusan pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia perhajian yang unggul, tidak hanya cakap secara administrasi, tetapi juga kuat secara mental dan karakter dalam mengemban amanah besar melayani tamu-tamu Allah. (M. Hariri)




