Di setiap warteg selalu ada seseorang yang mengaku tahu persis cara memperbaiki segalanya. Macet, harga, pokitik. Satu hal yang tidak pernah ia lakukan adalah bayar tagihan. Minggu ini, orang itu adalah Menteri Keuangan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Saya bisa bikin rupiah menguat semalam. Satu dua hari, selesai. Tapi saya bukan bank sentral,” katanya, saat rupiah meluncur ke arah Rp17.000 per dolar.

Itu bukan penenangan. Itu lempar tanggung jawab

Kalau Anda tahu kenapa rupiah melemah, tahu cara membalikkan arah dalam 48 jam, dan tetap bilang ini cuma “spekulasi”, maka pilih salah satu: masalahnya memang ada di sisi fiskal, atau Anda berpura-pura tidak melihatnya.

Menyuruh publik untuk “tanya bank sentral” terdengar rapi. Pasar mendengarnya berbeda: kebijakan fiskal mundur selangkah, kebijakan moneter yang menanggung akibatnya.

Ya, IHSG mencetak rekor. Tidak, itu tidak otomatis membuat rupiah menguat. Investor asing melakukan lindung nilai. Beli saham Indonesia sambil menjual rupiah bukan hal aneh. Itu praktik rutin.

Menyebut rupiah “undervalued” dan terus mengulang bahwa “fundamental kuat” juga meleset dari persoalan. Pasar tidak bertransaksi berdasarkan slogan. Pasar bergerak oleh arus dana, defisit, kebutuhan pembiayaan, dan kepercayaan. Ketika kebutuhan pembiayaan melampaui kepercayaan, nilai tukar yang bergerak lebih dulu. Itu aritmetika.

Rupiah memang sempat menguat menjelang akhir pekan. Bukan karena Jakarta melakukan terobosan kebijakan, tapi karena sentimen Asia membaik dan dolar melemah. Saat tekanan eksternal mereda, mata uang bisa bernapas. Itu bukan bukti kekuatan. Itu sekadar kelegaan.

Nilai tukar memang bisa didorong naik dalam semalam.

Tapi Anda tidak akan suka caranya.

Opsi pertama:
Terapi kejut fiskal. Pangkas belanja besar-besaran dan terima konsekuensi ke pertumbuhan.

Opsi kedua:
Teater keuangan. Kerahkan cadangan devisa, terbitkan utang valas, dan beli waktu yang nanti harus dibayar.

Itulah arti “semalam”: memindahkan biaya ke depan.

Di titik ini, dominasi fiskal masuk ke ruangan. Saat pemerintah belanja lebih dulu dan menjelaskan belakangan, bank sentral menjadi katup pelepas tekanan. Nilai tukar yang menunjukkan retaknya, karena ia tidak peduli pada pidato.

Dan perhatikan apa yang tidak terjadi. Bank sentral tidak meluruskan narasi, tidak memperjelas mandat, tidak mendorong balik di ruang publik. Keheningan itu bukan disiplin. Itu penerimaan.

Di warteg, semua orang paham.
Kalau uang pas-pasan, jangan pesan semua lauk sambil berjanji bayar nanti.
Kita memilih, atau tagihan yang memilihkan.

“Semalam” bukan strategi.
Itu meminjam kepercayaan hari esok untuk bertahan dari headline hari ini—perlahan di awal, lalu sekaligus semuanya. (*)

*) Oleh Harry Baskoro, Pengamat Ekonomi, Eks Profesional Bank Sentral