Jakarta, jurnal9.tv -Perpaduan pengalaman lapangan dan riset akademik mengantarkan Abdul Basir meraih gelar doktor di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Latar belakangnya sebagai pendidik madrasah dan aparatur sipil negara memberi warna praktis pada kajian yang ia dalami tentang tata kelola haji di Indonesia.
Basir menempuh pendidikan tinggi di Universitas Negeri Semarang dan melanjutkan magister di Universitas Negeri Yogyakarta. Fondasi keilmuan tersebut memperkuat minatnya pada isu-isu manajemen publik, khususnya layanan keagamaan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat luas.
Pengalaman panjang sebagai guru di Wonosobo membentuk kepekaan sosialnya dalam membaca kebutuhan jemaah. Setelah itu, ia masuk ke jalur birokrasi dan terlibat dalam pengelolaan layanan haji di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia, sebelum melanjutkan pengabdian pada Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Perjalanan karier ini mempertemukannya dengan tantangan teknis, diplomasi layanan, hingga koordinasi lintas sektor.
Dalam ujian terbuka promosi doktor, Basir mempresentasikan disertasi bertema manajemen perhajian Indonesia periode awal pascakemerdekaan. Riset tersebut menyoroti fase-fase pembentukan sistem rekrutmen jemaah, pola pengangkutan, serta manajemen perjalanan ke Tanah Suci di tengah keterbatasan infrastruktur dan dinamika politik. Temuan risetnya menegaskan bahwa pelayanan haji bukan sekadar urusan administratif, melainkan cerminan kapasitas negara dalam melindungi dan melayani warganya.
Ia menilai, pembacaan sejarah penting sebagai cermin untuk pembenahan kebijakan masa kini—mulai dari perencanaan layanan, integrasi data jemaah, hingga penguatan tata kelola antarlembaga. Menurutnya, praktik birokrasi perlu terus ditopang riset agar kebijakan haji lebih adaptif, transparan, dan berpihak pada keselamatan serta kenyamanan jemaah.(M. Hariri)




