Bondowoso, jurnal9.tv -Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LF PWNU) Jawa Timur sukses menyelenggarakan kegiatan Kaderisasi Ahli Hisab Rukyat Angkatan 2026. Acara yang berlangsung pada 6-7 Februari dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ketua LF PWNU Jawa Timur, Ust. Syamsul Ma’arif mengungkapkan bahwa total peserta mencapai 245 orang. Mereka berasal dari perwakilan Lembaga Falakiyah PCNU se-Jawa Timur, utusan pondok pesantren, hingga kader NU dari luar provinsi seperti Koja, Jakarta Utara.

Selama kegiatan, para peserta dibekali dengan berbagai materi teknis falakiyah, antara lain pemrograman Hisab seperti penyusunan awal bulan Hijriah berbasis Android menggunakan metode Kitab Ad-Durul Aniq.

Kemudian penyelarasan kalender, yakni sinkronisasi kalender Hijriah untuk tahun 2027. Dan persiapan Ramadan & Syawal 1447 H serta sosialisasi konsep jadwal imsakiyah dan persiapan rukyatul hilal.

Sementara berdasarkan hasil perhitungan hisab yang dibahas dalam forum tersebut, posisi hilal untuk awal Ramadan 1447 H diprediksi masih berada di bawah ufuk pada tanggal 29 Sya’ban atau 17 Februari mendatang.

“Secara prediksi hisab, hilal istihalah (tidak mungkin) terlihat karena posisinya di bawah ufuk. Sehingga kemungkinan besar bulan Sya’ban akan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari,”ujar Ust. Syamsul Ma’arif, Jumat (7/2/2026).

Dengan prediksi tersebut, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 19 Februari. Namun, LF PWNU Jatim menegaskan bahwa keputusan akhir tetap menunggu hasil isbat Menteri Agama dan ikhbar PBNU.

Meskipun hasil hisab sudah dapat diprediksi, Ketua LF PWNU Jatim berpesan kepada para kader agar tidak berhenti pada metode hitungan saja. Ia menekankan pentingnya Rukyatul Hilal Bil Fi’li (observasi lapangan) sebagai dasar utama penentuan awal bulan di lingkungan Nahdlatul Ulama karena hal itu ialah bagian dari menjaga tradisi Rukyat.

“Harapan kami, para peserta terus berlanjut ke Rukyatul Hilal sebagai observasi visibilitas. Penentuan awal bulan di NU tetap mengacu pada Rukyat, sedangkan hisab adalah prediksinya,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, LF PWNU Jatim berharap dapat menjaga persatuan umat serta memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah di tengah potensi perbedaan awal bulan dengan ormas lain.