Lamongan, Jurnal9.tv -Penanganan banjir di kawasan Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, hingga kini dinilai belum menunjukkan keseriusan. Kinerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam melakukan normalisasi saluran pembuangan air dianggap lambat.
Akibatnya, warga harus terus berjibaku dengan kenaikan debit air yang tak kunjung surut di tengah musim penghujan.
Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) secara terbuka mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap efektivitas penanganan banjir saat ini. Pengurus Harian IP3A, H. Hamim, menyebutkan bahwa klaim data teknis terkait kapasitas pompa sebesar 10.000 liter per detik yang sering dipublikasikan diduga kuat hanya angka di atas meja semata.

“Faktanya di lapangan, kami meragukan data tersebut. Kapasitas aslinya terpantau tidak sampai separuh dari yang diklaim,” tegas Hamim saat memantau kondisi di lokasi banjir.
Kapasitas Pembuangan Minim
Berdasarkan data yang dihimpun dari PU SDA Provinsi, kapasitas pembuangan air saat ini masih sangat jauh dari kebutuhan ideal. Untuk mengantisipasi luapan air yang merendam pemukiman dan lahan tani, dibutuhkan kapasitas pembuangan sebesar 150 kubik per detik. Namun, realisasi di kawasan BMCM dan DKWM dinilai masih sangat minim.
IP3A juga menyoroti alokasi anggaran penanganan banjir dari pemerintah pusat yang mencapai puluhan miliar rupiah namun dianggap tidak tepat sasaran. Proyek tersebut justru difokuskan di Kali Pelalangan, yang menurut warga justru mempercepat arus air masuk ke kawasan tersebut tanpa dibarengi sistem pembuangan yang mumpuni di sisi hilir.

“Titik krusialnya ada di wilayah DKWM dan BMCM, tapi justru tidak difokuskan di sana. Ini hanya mempercepat air masuk, tapi pembuangannya tetap macet,” tambah Hamim.
Kondisi memprihatinkan ini disebut telah berlangsung selama 25 tahun, tepatnya sejak tahun 2000. Hamim menilai, sejak dimulainya era otonomi daerah, penanganan banjir di kawasan Bengawan Jero yang mencakup luas 40.000 hektar menjadi tidak terarah atau morat-marit.
Dari total luasan lahan tersebut, sekitar 6.000 hektar yang masuk dalam wilayah Bengawan Jero bagian tengah dan dalam merasakan dampak paling parah. Selain buruknya infrastruktur pembuangan, warga juga menyayangkan lambatnya perhatian dan bantuan nyata bagi para korban terdampak banjir di Lamongan.




