Inayah Wahid: Melalui Pesantren, Gus Dur Mengasah Nuraninya untuk Membela yang Lemah

Jombang, jurnal9.tv -Peringatan Haul ke-15 KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia malam ini (Ahad, 22 Desember 2024) diperingati untuk kesekian kalinya di Pesantren Tebuireng Jombang. Setelah, kemarin Sabtu, 21 Desember 2024 Haul juga diselenggarakan oleh keluarga besar Gus Dur di Ciganjur, Jakarta. Perlu diketahui, di komplek pesantren Tebuireng Jombang, jasad Gus Dur dimakamkan.

Hadir dalam acara Haul tersebut Mentri Agama RI Prof.Dr. Nasarudin Umar, Kepala Badan Haji Umrah, KH Irfan Yusuf, Pj Gubernur Jawa Timur dan beberapa pejabat lainnya. Selain itu acara haul ini diikuti oleh keluarga besar pesantren Tebuireng Jombang. KH Abdul Hakim Mahfudz atau lebih dikenal sebagai Gus Kikin yang sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur serta gawagis dan nawaning pesantren Tebuireng. Masyarakat yang hadir memadati seluruh arena pesantren, jalan Raya Jombang-Pare depan pondok juga demikian dipadati oleh masyarakat yang hadir.

Inayah Wahid, putri Gus Dur yang hadir dalam acara Haul Gus Dur di pesantren Jombang dalam kesempatan ini mewakili keluarga Gus Dur, menyampaikan bahwa tema yang diangkat dalam Haul Gus Dur adalah “Menajamkan Nurani, Membela yang Lemah”. Tema ini merupakan salah satu warisan Gus Dur.

“Seperti apa membela yang lemah?”, demikian pertanyaan yang diajukan Inayah Wahid dalam sambutannya mewakili keluarga Gus Dur. Peran perempuan sebenarnya memiliki aktivitas dan peran besar dan penting. Namun dalam perkembangannya dipinggirkan, dilemahkan. Seperti perempuan adalah pihak yang dilemahkan. Gus Dur membela mereka, membersamai, berdiri bersama mereka yang lemah dan dilemahkan.

“Gus Dur percaya, tidak ada manusia yang lemah, tetapi yang ada adalah dilemahkan,” demikian tutur putri Gus Dur, Inayah Wahid. Maka perlu memberi wawasan, mengasah nurani untuk membela mereka yang dilemahkan secara sistematis. Inayah mengajak mengevaluasi, sampai dimana membela yang lemah sudah dilakukan. Melalui pesantren Gus Dur mengasah nuraninya yang kemudian menjadi basis aktivitas dan gerakannya dalam membela yang lemah.