Surabaya, jurnal9.tv -LP Ma’arif NU Jawa Timur sukses menggelar Pelatihan Ma’arif Mart dan BMT Batch1 di Aula Kantor PWLP Ma’arif NU Jatim, Sabtu-Minggu (30–31/8/2025). Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian dari 12 pelatihan dalam Batch1, dengan fokus pada pengembangan wirausaha berbasis sosial (sociopreneur) di lingkungan pendidikan.
Sekretaris PWLP Ma’arif NU Jatim, M. Fakhrul Irfan Syah, M.Sos., dalam sambutannya menyebutkan bahwa pelatihan ini memiliki perbedaan mendasar dibanding program kewirausahaan konvensional. Selain berorientasi pada profit, Ma’arif Mart juga mengedepankan nilai-nilai kepercayaan.
“Sementara di Ma’arif Mart, kami menekankan aspek sociopreneur, seperti bagaimana menjaga kualitas produk yang diberikan kepada konsumen, baik siswa maupun masyarakat luas. Karena menanamkan kepercayaan itu yang paling penting,” ujarnya.
Pelatihan ini diikuti sekitar 40 peserta yang disebut Irfan sebagai “orang-orang pilihan”. Selain menambah wawasan, forum ini juga dimaksudkan sebagai ajang konsolidasi antar-pelaku usaha Ma’arif Mart.
Lebih lanjut, Irfan berharap pelatihan ini dapat melahirkan ekosistem kewirausahaan yang inklusif di sekolah-sekolah. “Koperasi di lingkungan pendidikan memiliki tantangan besar, baik dari sisi daya dukung lembaga maupun hubungan dengan konsumen. Karena itu, keberadaan mitra strategis sangat dibutuhkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua LP Ma’arif NU Jatim, Prof. Masdar Hilmy, S.Ag., MA., Ph.D., menegaskan pentingnya kemandirian ekonomi bagi warga NU. Beliau menilai, pelatihan ini merupakan langkah nyata untuk memperbaiki citra sekaligus meningkatkan martabat warga nahdliyin.
“Selama ini, soal kemandirian kita bisa dibilang belum cukup terhormat. Yang terhormat itu kalau bisa mandiri secara penuh. Karena itu, kewajiban kita adalah membantu warga agar berdaya secara ekonomi. Kalau sudah berdaya, derajat kita sedikit lebih berwibawa, tidak dipandang sebelah mata,” Prof. Masdar.
Prof. Masdar juga mengingatkan bahwa ketidakberdayaan ekonomi seringkali berdampak panjang pada kehidupan masyarakat. “Mulai dari terbiasa berhutang hingga memicu konflik dalam relasi sosial. Karena itu, saya sangat mengapresiasi pelatihan ini yang berangkat dari semangat menjaga kelompok dan keluarga dari kerusakan,” tambahnya.
Dengan terselenggaranya Pelatihan Ma’arif Mart Batch1, LP Ma’arif NU Jatim berharap tercipta jejaring kewirausahaan yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperkuat nilai sosial dan kemandirian ekonomi warga nahdliyin.
Dalam pelatihan ini juga mendatangkan pengelola BMT At Tajdid Temayang, Bojonegoro.BMT ini adalah milik MI Ma’arif Nurul Huda Temayang, Bojongoro yang telah memiliki 19 cabang dengan aset 80 milyar. Dalam pemaparannya bahwa memulai pendirian BMT tidak mudah kerena akan memulai ada hambatan dari internal Guru MI Nurul Huda yg tidak setuju dengan program ini. Namun dengan semangat yg kuat bersama mayoritas Guru dengan modal pertama dari saham para Guru terkumpul dana 22Juta. Dari modal ini akhirnya dikelola secara sungguh sungguh dan akuntabel mendapatkan kepercayaan masyarakat sehingga berkembang menjadi 19 Cabang serta memiliki beberapa unit usaha Seperti pencucian mobil, Minimart dan Warkop. Dalam Rapat pemegang saham BMT dapat menyisihkan dari laba untuk Shodaqah/CSR sebanyak 600 juta.
Pada pelatihan hari kedua para peserta diajak kunjungan HARUM MART didepan Kantor PWNU Jawa Timur utk melihat secara langsung praktek bagaimana transaksi dikasir Harum mart.
Pelatihan berakhir dengan acara RTL di masing-masing sekolah dan diserahkan kepada Tim Pelatih Ma’arif NU Jatim yang nanti akan senantiasa memonitor alumni pelatihan Batch1.(\azi).