Jakarta, jurnal9.tv -Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) menargetkan agar dana haji yang mencapai lebih dari Rp18 triliun tidak hanya mengalir ke Arab Saudi, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi dalam negeri melalui pelibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj RI, Jaenal Effendi, mengatakan bahwa penguatan ekosistem ekonomi haji merupakan amanah besar Presiden RI yang diturunkan melalui arahan Menteri Haji dan Umrah.
“Dana haji ini harapannya tidak sekadar masuk ke pemerintah Saudi, tetapi bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Selama ini justru dirasakan oleh negara lain seperti Thailand, Filipina, Malaysia, bahkan Australia,” kata Jaenal kepada media.
Menurutnya, Kemenhaj kini membuka peluang luas bagi UMKM nasional untuk terlibat langsung dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia melalui skema ekspor ke Arab Saudi.
Salah satu langkah konkret yang telah dijalankan adalah optimalisasi penggunaan bumbu bercita rasa Indonesia serta makanan siap saji atau ready to eat (RTE), terutama untuk kebutuhan jemaah di puncak haji Armuzna, di mana aktivitas memasak tidak memungkinkan.
“Tahun ini kita maksimalkan 22 jenis bumbu khas Indonesia dan makanan siap saji. Total bumbu yang disiapkan sekitar 400 ton lebih, sementara RTE mencapai sekitar 3,9 juta paket,” jelasnya.
Produk-produk tersebut telah melalui uji cita rasa (test food) dan disuplai oleh perusahaan yang memiliki sertifikasi ekspor dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA). Jaenal menegaskan bahwa rasa dan kualitas produk benar-benar disesuaikan dengan selera jemaah Indonesia.
Tak berhenti di situ, Kemenhaj juga mulai menyiapkan langkah strategis ekspor beras Indonesia untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden dan Menteri Haji, menyusul kondisi surplus panen nasional yang mencapai lebih dari 2 juta ton.
“Kita sudah koordinasi dengan Bulog dan Kementerian Pertanian. Selama ini kendalanya harga beras kita kurang kompetitif dibanding Thailand atau Vietnam. Tapi harapannya ke depan harga bisa masuk, kualitas lebih bagus, dan berkelanjutan,” ungkap Jaenal.
Ia menilai penggunaan beras Indonesia sangat penting, mengingat banyak jemaah yang berasal dari pedesaan dan belum terbiasa dengan jenis beras non-Indonesia. “Jemaah kita rindu makan beras Indonesia yang pulen dan enak. Ini juga bagian dari pelayanan,” tambahnya.
Selain kebutuhan konsumsi, Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah juga memetakan potensi produk UMKM sebagai oleh-oleh haji. Mulai dari kurma lokal yang dikembangkan di Lombok Utara dan Pasuruan, tasbih produksi UMKM Jepara, hingga cokelat dari Garut.
“Kita sedang mengembangkan platform oleh-oleh haji, sehingga jemaah belum sampai rumah, barangnya sudah tiba lebih dulu. Ini agar belanja oleh-oleh tidak lagi bergantung dari luar negeri,” pungkas Jaenal.
Dengan langkah ini, Kemenhaj berharap ekosistem ekonomi haji dapat menjadi pengungkit nyata bagi UMKM nasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah haji Indonesia.(M. Hariri)




