Surabaya, Jurnal9.tv – Suasana sore hari itu sangat romantis. Disaat yang yang lain saling berbalas kasih, namun berbeda dengan simbol kasih sayang yang diberikan Tamami dan Hawin. Mendorong kursi roda hingga menyuapi itulah yang dilakukan kedua insan saat berada di Hall Mina Debarkasi Surabaya pada Jumat (21/07).
Samsul Hawin adalah seorang ibu rumah tangga. Hari-hari yang biasa dihabiskan untuk memasak dan bercanda bersama ketiga anak dan cucunya, sudah tak bisa ia lakukan lagi. Stroke yang ia alami sejak tahun 2018 membawa perubahan besar dalam hidupnya. Hampir separuh tubuhnya tidak bisa digerakkan, hanya tangan kanan dan kepala yang mampu ia gerakkan.
Wanita yang memiliki hobi menulis ini merupakan sosok wanita yang periang. Dari raut wajahnya, tampak sangat bahagia bisa menunaikan ibadah haji dengan suaminya. Sambil memegang tasnya ia mencoba ingin menyampaikan cerita. Tapi apa daya, jangankan bercerita, mengucapkan kata saja begitu sulit dan terbata-bata.
“Seneng,” jawabnya ketika ditanya suka tidak naik haji.
Ditemui saat sedang menyuapi, Tamamin menceritakan penyakit yang diderita istriya sangat tak terduga. Semula istrinya mengaku gatal-gatal. Namun ia tak menyangka setelah pulang berobat, tangannya tidak bisa digerakkan.
“Awalnya tahun 2018 ibu itu gatal-gatal terus tak bawa berobat, tiba-tiba tangannya tidak bisa gerak, lalu pingsan 6 hari koma,” ceritanya.
Pria yang berprofesi sebagai petani itu tak menyangka bahwa pengalamannya pergi haji yang ia impikan begitu berkesan sehingga membuatnya ingin kembali lagi.
“Saya terharu, bahagia sekali, apalagi saya kesana pas haji akbar, wenak sekali, disana gak ada namanya kelaparan, saya pingin kembali kesana lagi,” ujarnya penuh kebahagiaan.
Meskipun sedikit lelah karena harus merawat, memandikan dan menyuapi istri. Tapi ia bahagia, karena bisa bersama dengan belahan jiwanya menunaikan rukun islam kelima.
“Saya sekamar sama ibu berdua, yang lainnya satu kamar 4 orang saya berdua karena setiap hari merawat ibu, seperti anak kecil, ya memandikan menyuapi,” terangnya sambil terus memegangi tangannya.
Selalu beribadah bersama-sama seraya terus mengharap kesembuhan, menjadi satu-satunya semangat Tamami untuk tidak pernah letih menempuh perjalanan berkilo-kilo meter. Ia yakin suatu hari akan ada keajaiban untuk istri.
“Saya cuman ingin kesembuhan istri, setiap sholat selalu berdoa kesembuhan,” pintanya.




