Karanganyar, jurnal9.tv – Berawal dari usaha rumahan dengan modal Rp8 juta, Teh Gambyong Kemuning di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kini berkembang menjadi produk teh lokal yang mulai menembus pasar nasional.

Usaha yang dirintis Eko Wuryanto sejak 2012 itu kini mampu membukukan omzet sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta per bulan.

Perjalanan tersebut bermula dari pengalaman Eko bekerja di perusahaan teh sejak 2010. Saat itu, ia melihat potensi perkebunan teh di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, yang juga mulai berkembang sebagai kawasan wisata.

“Teh itu salah satu kebutuhan yang hampir setiap hari dikonsumsi masyarakat. Kebetulan lingkungan tempat saya tinggal juga berada di kawasan perkebunan teh,” ujar Eko kepada wartawan, Selasa (6/10/2026).

Menurut Eko, wisatawan yang datang ke Kemuning tidak hanya menikmati pemandangan perkebunan teh. Mereka juga mencari produk teh lokal sekaligus ingin melihat proses pengolahannya.

Peluang tersebut kemudian mendorong Eko membangun usaha sendiri setelah memutuskan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja pada 2012.

Namun, usaha itu tidak langsung berkembang. Pada masa awal, produksi Teh Gambyong hanya sekitar 50 kilogram per bulan dan tidak selalu habis terjual.

Omzetnya pun hanya sekitar Rp300.000 per bulan, jauh dibandingkan penghasilannya saat masih bekerja di perusahaan teh.

Eko kemudian mengembangkan usaha secara bertahap dengan memperluas kemitraan bersama petani.

Jika awalnya hanya bekerja sama dengan lima hingga enam petani dengan pasokan 20-30 kilogram teh basah, kini Teh Gambyong bermitra dengan 26 petani yang mengelola lahan sekitar lima hektare.

Pasokan bahan baku juga meningkat hingga sekitar 50-60 ton teh basah dengan melibatkan sekitar 25 pemetik.

Dengan rendemen sekitar 22,5 persen, bahan baku tersebut diolah menjadi berbagai produk, mulai dari teh hijau, teh hitam, teh putih hingga teh rempah.

Varian rempah yang dikembangkan antara lain teh jahe, sereh, kumis kucing, teh ripan dan jati cina.

Teh Bercita Rasa Kopi

Salah satu produk yang menjadi ciri khas Teh Gambyong adalah teh dengan karakter rasa menyerupai kopi.

Eko mengatakan karakter tersebut bukan berasal dari campuran kopi, melainkan karakter alami teh yang tumbuh di kawasan Kemuning.

Kondisi tanah dan sejarah perkebunan di kawasan tersebut disebut turut memengaruhi karakter tanaman teh. Pada masa kolonial Belanda, sejumlah area perkebunan di Kemuning juga ditanami kopi.

Selain mempertahankan karakter lokal, Teh Gambyong terus melakukan inovasi untuk menyesuaikan produk dengan selera konsumen.

Beberapa varian yang dikembangkan antara lain teh melati, jahe, sereh, mint, leci dan markisa. Eko juga mengembangkan produk matcha dan teh putih.

Produk matcha bahkan mulai diminati sejumlah restoran di Jakarta. Namun, kapasitas produksinya masih terbatas sekitar 15-20 kilogram per bulan.

Eko menargetkan Teh Gambyong tidak hanya dikenal sebagai produk lokal, tetapi mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.

“Harapan kami, Teh Gambyong meskipun produk lokal bisa diterima secara nasional dengan kualitas yang mampu bersaing secara internasional,” ujarnya.

Dapat Pendampingan Bank Indonesia

Pertumbuhan Teh Gambyong juga mendapat dukungan melalui pendampingan Bank Indonesia. Dukungan tersebut mencakup pengembangan produksi, peralatan, promosi hingga akses mengikuti pameran untuk memperluas jaringan pasar.

Salah satunya melalui Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 di Surabaya pada Juli lalu.

Dari ajang tersebut, Teh Gambyong mendapatkan pembeli dari Boyolali yang kini memesan sekitar 3.000 pieces produk setiap hari.

Nilai transaksi dari satu pembeli tersebut mencapai sekitar Rp6 juta per hari.

“Unik juga, mitra kami dari Boyolali justru bertemu di Surabaya. Dari satu buyer saja, setiap hari kami bisa mendapatkan sekitar Rp6 juta,” kata Eko.

Pendampingan dan perluasan jaringan tersebut ikut mendorong pertumbuhan reseller.

Pada 2025, jumlah reseller Teh Gambyong tercatat sekitar 235 orang. Angka tersebut kini meningkat menjadi sekitar 620 reseller.

Pertumbuhan jaringan pemasaran itu sejalan dengan peningkatan omzet. Jika pada 2023 omzet Teh Gambyong berada di kisaran Rp85 juta per bulan, kini nilainya telah mencapai sekitar Rp250 juta hingga Rp300 juta per bulan.

Di sisi lain, sejumlah pabrikan juga telah menyatakan minat untuk mendapatkan pasokan teh hitam dari Teh Gambyong.

Namun, Eko belum dapat memenuhi permintaan tersebut karena produksi saat ini masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

“Kami sebenarnya sudah ada beberapa pabrikan yang ingin mengambil produk. Tetapi kebutuhan kami sendiri belum tercukupi, sehingga belum bisa menyuplai,” katanya.