MESKI telah empat hari berlalu, namun perhelatan Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Stadion Gajayana, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur masih menjadi perbincangan publik. Penulis pun tertarik untuk mengulas peringatan Satu Abad NU versi Kalender Hijriyah tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hari itu, Ahad 8 Februari 2026 Kota Malang menjadi lautan Nahdliyin. Paling tidak ada sekitar 150.000 orang yang hadir dalam event Mujahadah Satu Abad NU tersebut.

Mayoritas massa datang dari wilayah Jawa Timur. Namun ada juga yang datang dari wilayah Jawa Tengah, Jogja, Jawa Barat, Jakarta dan Banten. Massa didominasi pakaian warna putih, meski pun banyak juga warna hijau yang dikenakan ibu-ibu Muslimat NU.

Bukan hanya jemaah NU yang mengalir ke Kota Malang, para pedagang dadakan dari luar Jawa Timur pun datang untuk merengkuh rejeki di even Akbar itu.

Sejak Jumat 6 Februari 2026, puluhan ribu massa sudah mulai masuk ke kota Malang. Hujan besar yang mengguyur tak menyurutkan langkah mereka.

Paling tidak sudah 1500 bus masuk ke Kota Malang, dua hari sebelum Hari H puncak Mujahadah Kubro Satu Abad NU.

Bila satu bus diisi 50 orang, maka dikalikan dengan jumlah 1500 bus. Didapati estimasi 75.000 orang yang datang dari luar Kota Malang, dua hari sebelum Hari H.

Ditambah, rombongan yang berangkat secara mandiri dengan sepeda motor, mobil dan kereta api serta bus antar kota.

Demikian pula jamaah yang datang dari wilayah Malang Raya yang terdiri dari Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Maka estimasi 150.000 massa yang hadir di event Akbar ini sangat rasional.

Penulis melihat ada faktor Khofifah Effect (Efek Khofifah) dan Magnet Presiden Prabowo sehingga pada Hari H sekitar 150.000 massa tumplek blek di dalam Stadion Gayana dan di sekitar stadion yang pada April tahun ini juga genap berusia Satu Abad.

Puluhan ribu massa yang tidak bisa masuk ke dalam stadion Gajayana, yang tercatat sebagai stadion tertua di Indonesia itu, mengikuti prosesi acara lewat sejumlah Videotron besar yang disediakan panitia.

Meski resminya perhelatan Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Kota Malang adalah agenda PWNU Jawa Timur. Namun sosok Khofifah menjadi salah satu faktor tingginya animo massa untuk hadir.

Sebagai Gubernur Jawa Timur, ia memfasilitasi dan mengkoordinasi kepala daerah di Malang Raya untuk mendukung persiapan acara Akbar tersebut.

Sebagai Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat NU, ia menjadi alasan puluhan ribu Ibu-Ibu Muslimat NU berbondong-bondong mengalir ke Kota Malang.

Euforia massa semakin besar setelah menyebarnya kabar Presiden Prabowo Subianto mendarat di Bandara Abdurachman Saleh, Malang pada Sabtu 7 Februari 2026 malam atau satu hari sebelum puncak peringatan Mujahadah Kubro Satu Abad NU.

Kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu membuat Stadion Gajayana seolah bergetar. Lautan massa pun mengelu-elukan sosok Presiden RI ke-8 tersebut.

Panggung yang megah menjadi bertambah mewah dengan pidato Presiden Prabowo yang menggelegar. Terlebih dalam pidatonya Presiden mengapresiasi kontribusi besar NU terhadap perjalanan sejarah NKRI hingga hari ini.

Prabowo pun tampak sumringah dan bersemangat di acara Mujahadah Kubro Satu Abad NU. Lelahnya terbang dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta ke Kota Malang, terhapus dengan euforia dan sambutan ratusan ribu Nahdliyin.

Penulis pun coba mundur ke belakang. Sebelum Mujahadah Kubro Satu Abad NU dihelat oleh PWNU Jawa Timur.

Sepekan sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lebih dulu menggelar event peringatan Satu Abad NU, tepat di hari lahir NU pada 31 Januari 2026.

Acara itu digelar di Istana Olahraga (Istora) Senayan, bukan Gelora Bung Karno atau GBK seperti rencana sebelumnya. Seperti diketahui kapasitas Istora Senayan, jauh lebih kecil dari GBK.

Istora Senayan yang biasa digunakan untuk event olahraga Bulutangkis itu berkapasitas 7000 tempat duduk. Bila area lapangan digunakan pun, kapasitas total tak sampai 10.000 massa.

Suasana di Istora Senayan kurang meriah atau bisa dibilang sepi untuk event NU tingkat nasional. Kondisi itu bisa dilihat dari banyaknya kursi yang kosong.

Apalagi Presiden Prabowo Subianto yang diharapkan hadir, nyatanya absen. Ketidak hadiran Presiden membuat acara ini kurang gereget.

Kehadiran Presiden diwakilkan oleh Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar yang juga tercatat sebagai Rais Syuriyah PBNU.

*) Oleh: Ramadhan Isa
Koordinator Nasional Poros Muda NU