Lamongan, jurnal9.tv -Semangat religiusitas menyelimuti kompleks Pendopo ndalem kasepuhan Sunan Drajat saat puluhan anak didik termasuk dari PAUD Muslimat NU dan MI Nidhomut Tholibin Dadapan turut serta dalam agenda khitan massal yang digelar panitia Haul Agung Sunan Drajat tahun ini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Keikutsertaan ini dipandang sebagai langkah konkret madrasah dalam menjalankan tanggung jawab sosial sekaligus penguatan fondasi syariat bagi peserta didik.

Azizatun Najichah,S.Pd PKM kesiswaan MI Nidhomut Tholibin menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari “Kurikulum Kehidupan” yang diajarkan madrasah.

“Kami tidak hanya bertanggung jawab atas kecerdasan kognitif siswa di kelas, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal mereka menjalankan kewajiban syariat. Ikut serta dalam Haul Sunan Drajat adalah cara kami mendekatkan anak-anak pada barokah sang wali,” ungkap Azizatun di sela pendampingan siswa.

Senada dengan hal dengan R.Nanang Bagus P perwakilan Panitia Haul Sunan Drajat memberikan apresiasinya. Kehadiran delegasi dari MI Nidhomut Tholibin menunjukkan sinergi yang kuat antara lembaga pendidikan dan pusat dakwah Sunan Drajat. Ini adalah bentuk gotong royong sosial-keagamaan yang harus terus dijaga.

Berdasarkan data di lapangan, sebanyak 80 peserta partisipasi khitan masal diantaranya Muhammad Abil Daffa Muawwafaq ( MI Nidhomut Tholibin ) Muhammad Husain Al Faruq dan Ardi Syaputra Agustino (PAUD Muslimat NU) Dadapan

Secara sosiologis, khitan massal ini menjadi ruang perjumpaan lintas latar belakang yang disatukan oleh tradisi haul. Bagi siswa MI Nidhomut Tholibin, pengalaman ini memberikan dua pelajaran penting, yakni keberanian Syar’i dimana Mengubah stigma “khitan yang menakutkan” menjadi sebuah perayaan ibadah yang membanggakan Serta siswa merasa menjadi bagian dari komunitas besar Islam (Ummah) yang saling mendukung di bawah naungan sejarah besar Wali Songo.

Melalui kegiatan ini, MI Nidhomut Tholibin membuktikan bahwa institusi pendidikan Islam memiliki peran vital sebagai fasilitator antara kebutuhan agama keluarga dan agenda besar masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu mencetak generasi yang memiliki integritas spiritual sejak usia dini.