Jakarta, jurnal9.tv -Memasuki abad keduanya, Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan langkah strategis untuk merawat jami’iyah dan jama’ah. Gus Yahya menjelaskan bahwa transformasi pesantren adalah sebuah keniscayaan untuk menghadapi era sekarang ini. Ketua Umum PBNU menjelaskan bahwa yang bisa bertahan bukan yang besar dan yang kuat tapi yang bisa beradaptasi dengan zaman. Pesantren kini secara serius merumuskan pola adaptasi untuk merespon dinamika yang terus berlangsung.
Ketua RMI PBNU KH. Hodri Ariev dalam sambutannya dalam forum silaturrahim nasional pengasuh pesantren. Beliau menekankan bahwa ada lima poin dalam transformasi pesantren, pertama transformasi bidang kepengasuhan, kedua transformasi kurilulum, bagaimana kurikulum pesantren didesain untuk tetap sholih fi kulli zaman. Ketiga transformasi Sumber Daya Manusia (SDM), bagaimana pesantren menyiapkan ekosistem pesantren dalam bidang SDM yang kompeten. Keempat transformasi tata kelola dan kelembagaan pesantren, dan kelima tranformasi infrastruktur.
“Pesantren di abad kedua ini berikhtiar maksimal untuk berkontribusi dalam merawat jamiyyah agar bisa memberi manfaat optimal kepada jama’ah,” tegas KH. Hodri Ariev. Lebih lanjut, beliau menyoroti stereotip yang selama ini melekat bahwa pesantren menolak untuk berubah dan tetap memegang teguh jati diri sebagai lembaga pendidikan sebagai otoritas keilmuan. Di forum ini, KH. Hodri mengemukakan sikap tegas untuk mendorong pesantren meningkatkan fungsinya dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan fungsi pesantren sebagaimana termaktub jelas dalam UU Pesantren No.18 Tahun 2019.
“Pada pertemuan ini, kita mendalami bagaimana respon para pengasuh pesantren dalam beradaptasi dengan dinamika yang terus berlangsung. Kita harus hadir di sana,” tambahnya. Lebih lanjut Ketua RMI ini menegaskan bahwa, “Dalam merespon berbagai dinamika yang terus berlangsung, kita harus tetap berpegang kuat pada nilai-nilai kepesantrenan, akhlak santri, yang senantiasa menunjung tinggi kebenaran, persaudaraan, tawazun, tawassuth, dan i’tidal, baik sebagai sikap individual maupun berjamaah. Karena adaptasi tanpa akhlak akan sangat mungkin melahirkan ketidakseimbangan, ketimpangan, dan akhirnya kekacauan. Ini wajib dihindari.”
Menjawab Tantangan Urban
Merespons tantangan adaptasi tersebut, Rois Syuriyah PWNU DKI Jakarta, KH. Muhyidin, akan memaparkan strategi konkret melalui tema “Pendampingan Jamaah Perkotaan”. Menurutnya, masyarakat kota memiliki kerentanan psikologis dan spiritual yang unik akibat tekanan gaya hidup modern.
“Masyarakat urban butuh sandaran spiritual yang menenangkan dan rasional. Nilai-nilai pesantren masuk ke apartemen, perkantoran, dan komunitas kelas menengah untuk menawarkan Islam yang ramah, moderat, dan menjadi solusi atas kegersangan hati manusia kota,” ujar KH. Muhyidin.
Meski melebarkan sayap ke wilayah urban, pesantren menegaskan tetap akan menancapkan akarnya pada masyarakat kecil (wong cilik). KH. Ubaidullah Shodaqoh (Semarang) menjelaskan tentang ulama sebagai pewaris nabi dalam bidang ilmu pengetahuan, yang mempunyai tugas, menjaga agama, menggunakan sumber daya untuk kemakmuran rakyat, dalam paparannya mengenai “Advokasi Nahdliyin di Tingkat Akar Rumput” mengingatkan bahwa mayoritas santri memiiki latar belakang petani, buruh, dan nelayan. Perhatian NU dan pesantren yang selalu membela Masyarakat berdampak dan diterima baik oleh masyarakat.
“Advokasi adalah harga mati. pesantren harus hadir membela hak tanah petani, kesejahteraan buruh, dan kedaulatan nelayan. Ini adalah fungsi pesantren sebagai pemberdayaan masyarakat dan wujud keberpihakan Jam’iyah terhadap mereka yang lemah secara struktur,” tegas Kiai Ubaidullah.
Pondasi Ilmu Pesantren
Gus Nadhif menekankan pentingnya nilai-nilai pesantren, seperti kesederhanaan, kearifan, dll. Dengan syarat pesantren harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Serta kembali ke basis keilmuan melalui tema “Penguatan Otoritas Keilmuan Pesantren”. Baginya, di manapun NU bergerak, nilai-nilai pesantren, otoritas dan sanad keilmuan harus tetap menjadi ruh pergerakan.
“Revitalisasi nilai pesantren, seperti kejujuran, rendah hati, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, dan semacamnya adalah kunci penting dalam merawat Jam’iyah. Otoritas keilmuan dan adab santri menjadi filter agar gerakan kita tidak kehilangan arah, sekaligus menjadi benteng dari narasi keagamaan yang ekstrem,” jelas Gus Nadhif. Hidup harus dijalani sebagai ibadah agar kita selalu sadar bahwa kebenaran, kebaikan, kejujuran, merupakan nilai penting yang tidak bisa ditawar.
Silaturrahim gagasan dari para pengasuh pesantren ini menandai kesiapan pesantren untuk hadir secara utuh, baik sebagai pemberdayaan masyarakat maupun sebagai pembimbing spiritual di masyarakat perkotaan dengan tetap berpegang teguh pada tradisi-tradisi keilmuan pesantren.[AH]
RMI PBNU: Asosiasi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama
Kontak Media: Abdulloh Hamid (081326666328)




