Menandai Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (1926-2026), pada 20 Januari sd 8 Pebruari 2026, Lesbumi PWNU Jawa Timur menggelar Pameran Lukisan Nasional bertajuk Mangsa Kalasubo di Galeri Dewan Kesenian, Komplek Balai Pemuda Surabaya. Perhelatan ini diikuti para perupa nasional sebagaimana Gus Mus, Acep Zamzam Nur, Nasirun hingga Nabila Dewi Gayatri yang menjadi inisiator. Pameran ini berangkat dari dasar pemikiran bahwa Indonesia mempunyai kekayaan seni budaya yang luar biasa berbagai pulau, warisan ini termanifestasikan dalam berbagai bentuk karya: tari, rupa, teater, dan juga sastra. Begitu banyak sastra lisan maupun tulisan tumbuh di berbagai suku yang ada di setiap sudut wilayah Indonesia yang dulu dikenal sebagai Nusantara. Warisan-warisan ini adalah kekayaan intelektual leluhur, temurun ke generasi sekarang. Kendatipun jaman berkembang semakin maju dan modern, namun secara psikologis bangsa Indonesia masih sangat kental dengan tradisi dan tinggalan. Hal ini dikarenakan secara budaya, kita tidak bisa benar-benar melepaskan diri dari akar tradisi, yang sudah melekat di jiwa.
Terbuktikan dengan masih seringnya catatan atau ramalan kuno dipakai untuk membaca perkembangan zaman.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Adalah Prabu Jayabaya, seorang Raja dari Kediri yang masih sering dijadikan referensi dalam “membaca” zaman. Beliau meramalkan bahwa seusai masa Kalabendu (masa sulit dan carut marut) akan digantikan dengan masa Kalasubo, yaitu era atau masa dimana kekisruhan akan berangsur membaik dan datangnya keadilan serta kemakmuran di negeri ini—Indonesia akan mengalami masa keemasannya kembali, bahkan diagungkan di seluruh dunia.

Apakah jangka ramalan ini akan mewujud atau justru hanya sebuah utopia belaka? Tentu tidak bisa dipastikan persis terjadi sesuai dengan ramalan. Tapi paling tidak, kita semua masih punya cita-cita dan harapan. Karena harapanlah yang membuat hidup kita selalu dengan nyala: bergerak untuk merdeka, bergerak untuk berkarya, bergerak untuk maslahah.
Mitos dan kepercayaan yang dibangun oleh leluhur, menjadi katarsis untuk terus mengupayakan kemajuan dalam berjuang mewujudkan cita-cita bersama sebagai bangsa yang berdikari dan berdaulat.

Di era Pangeran Diponegoro, mendengungkan dan mengkultuskan beliau sebagai Heru Cakra atau Ratu Adil. Sama seperti di masa Revolusi, banyak orang mengumandangkan—mengabarkan akan datangnya Ratu Adil yang hendak membebaskan Ibu Pertiwi dari belenggu penjajahan. Itu semua adalah energi yang senantiasa digemakan sebagai spirit perjuangan bersama, agar tidak patah arang menghadapi belenggu penjajahan.

Apakah relevansi Kalasubo dengan kekinian? Mangsa atau zaman dan Kalasubo berarti kemakmuran. Ini semacam pitutur foklor kasanah lelulur warisan abadi akan adanya harapan yang sama di tengah krisis. Kita sadari bahwa bangsa ini telah mengalami krisis berkepanjangan justru karena kekayaannya yang berlimpah. Dimana orang luar ingin mengeruk dan menguasainya, sementara orang dalam tidak kuasa memegang amanah. Kekuasaan sering membuat lupa, sehingga krisis moral berkelanjutan tak berkesudahan. Etika, moral, keteguhan iman tidak lagi menjadi hal utama—yang benar menjadi salah, yang salah dibenarkan. Bahkan sampai pada masa krisis sunyi, daya beli masyarakat menurun tapi tak terasa karena mereka sudah apatis dan lumpuh. Ini adalah Kalabendu!

Husnudhan kepada Pemberi Hidup, setelah tahun 2025 alam akan bergeser dan memihak kebenaran. Hukum akan ditegakkan, masa keadilan, kemakmuran akan datang. Bagaimana itu bisa terwujud? Tentu kita semua memiliki peran masing-masing untuk memperbaiki dan memperbaruinya. Seniman punya peran penting dalam menyuarakan kebenaran. Seniman adalah salah satu makhluk pilihan Tuhan karena mempunyai daya cipta. Vibrasi yang digelorakan lewat berkarya akan memberi efek terhadap perubahan di sekitarnya. Seniman sebagai bagian dari agen perubahan, harus berani bersuara lewat karyanya. Karena itu adalah tugas mulia yang ia emban di dunia.

Maka besar harapan saya, dari ajang pameran bertajuk “Mangsa Kalasubo”— menjadi wadah dan sarana seniman rupa Indonesia untuk terus menggaungkan kesatuan berbangsa, tetap kritis mensikapi perkembangan dan tak henti bersuara tentang kebenaran agar Mangsa Kalasubo bisa segera terwujud. Aamiin

*) Oleh Nabila Dewi Gayatri, Sekretaris Lesbumi PWNU Jawa Timur