Pesantren di Mojokerto memiliki sanad gerakan yang nyata dan panjang. Berangkat dari fakta sejarah Mojokerto adalah ibukota Kerajaan penguasa Nusantara, Mojopahit beribukota di Trowulan, yang memunculkan tokoh Sunan Ampel sebagai keluarga kerajaan, pendiri pesantren pertama yang pernah ada, di Ampel Denta, Surabaya. Bersama Walisongo, Sunan Ampel menyebarkan Islam kuat mengakar di tengah masyarakat Jawa hingga berdiri kerajaan Islam Demak yang bisa menggantikan kekuasaan Majapahit.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ketika nusantara dikuasai Eropa, mulai Portugis hingga Belanda, maka perlawanan sengit justru dilakukan para pejuang dari kalangan ulama. Perang Jawa (tahun 1825 hingga 1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro tercatat sebagai perang yang paling menyulitkan Belanda. Sebuah perlawanan yang didorong dari kesadaran berketuhanan dan berkebangsaan mempertahankan tanah air dari penguasaan bangsa asing yang menguasai secara tidak sah, alias ghasab! Inilah sesungguhnya, awal dari lahirnya kesadaran berkebangsaan dan kebangkitan nasionalisme di nusantara.

Dan ketika Pangeran Diponegoro akhirnya dijebak dan ditangkap Belanda, sisa pasukannya bersepakat mengubah jalur perjuangan, menyebar ke penjuru daerah, menjadi diaspora ilmu, mendirikan pesantren tafaqquh fid-din, menyiapkan generasi berilmu yang kelak akan berjuang untuk agama dan bangsanya. Pohon Sawo di depan masjid, menjadi penanda bahwa pesantren itu adalah bagian dari diaspora eks pasukan Diponegoro. Beberapa di antaranya, ada di wilayah Mojokerto. Salah satunya, Pondok Pesantren Nurul Huda, di Desa Beratkulon, Kecamatan Kemlagi. Nama eks laskar itu adalah Kiai Imam Rowi.

Sejarah mencatat, dari ulama pesantren pula lahirlah perhimpunan para ulama, yakni Nahdlatul Ulama, sebagai wadah pergerakan ulama Islam ahlus sunnah wal jama’ah, bukan hanya di ranah keagamaan (diniyyah) ansih. NU menjadi wadah pergerakan kebangsaan para ulama yang bersama elemen lain merajut persatuan, mengusir penjajahan, memperjuangkan, mempersiapkan dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada Jumat pagi, 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, 17 Agustus 1945.

Kalangan pesantren kembali menjadi bintang, tatkala negara-negara sekutu bermaksud kembali berkuasa pasca Indonesia proklamirkan kemerdekaan. Melalui lasykar Hizbullah dan Sabilillah, para ulama pesantren menjadi aktor utama dalam revolusi perang kemerdekaan antara tahun 1945 hingga 1949. Perang Sabil ini dimulai dari pertempuran semesta, perang rakyat di Surabaya pada 10 Nopember 1945, yang dimobilisasi melalui fatwa Jihad Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari pada 19 September 1945 dan dikuatkan melalui Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945. Para santri tergabung dalam lasykar Hizbullah Sabilillah, dan para ulamanya di Pasukan Sabilillah. Pesantren kembali ke jalur asal perjuangan kebangsaan sebagaimana para pendahulunya, pasukan Pangeran Diponegoro.

Sekali lagi, Mojokerto mengulang perannya, menjadi lokus penting dalam transformasi ini. Adalah Kiai Moenasir Ali, Sang Komandan Pasukan Hizbullah, menyandang nama Batalyon 39 Condromowo yang disegani, penguasa medan perang gerilya di Mojokerto dan sekitarnya hingga Mojosari. Dalam pasukan Hizbullah ada nama Kiai Achyat Chalimi, Kiai Nawawi, dan sejumlah nama lainnya. Hizbullah pernah melayani pasukan Belanda di sebuah pertempuran yang sengit di kawasan pegunungan Pacet, yang hingga kini diabadikan dalam penanda sebuah tugu perjuangan.

Kalau di era digital ini, pesantren, termasuk di Mojokerto kembali ke jalur pendidikan tafaqquh fid-din, maka sesungguhnya pesantren sedang menjalani siklus alaminya menyiapkan generasi Islam yang tahan banting dan siap diterjunkan di segala cuaca. Tapi yang pasti, Pesantren di Mojokerto telah menjadi lokus dan saksi sejarah bagi sebuah transformasi yang epik, sejak Sunan Ampel di era Majapahit, Pangeran Diponegoro di era Perang Jawa dan salah satu pasukannya, Kiai Imam Rowi yang mendirikan Pesantren Berat Kulon, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ary yang mendirikan Nahdlatul Ulama, hingga Kiai Moenasir Ali, Kiai Ahyat Chalimi dan Kiai Nawawi yang menjadi pemimpin perang gerilya mengusir penjajah.

Walhasil, pesantren di Mojokerto memiliki resonansi sanad ilmu dan sanad gerakan yang kuat, otentik dan berkesinambungan. Dan kini, saat pesantren harus menghadapi era baru perang wacana dan cara pandang wacana kehidupan melalui Point of View (PoV) media digital dan media sosial, maka dengan berbekal sanad ilmu dan sanad gerakan tadi, pesantren di Mojokerto sesungguhnya telah memiliki cukup modal menghadapunya. Modal itu adalah anugerah spirit, model dan preseden untuk terus maju dan bergerak, menjadi laskar Batalyon Digital Condromowo! Kalau dilihat dari DNA-nya, Laskar ini berpotensi disegani sebagaimana para pendahulunya, laskar gerilya hizbullah pimpinan Mbah Kiai Munasir Ali, 80 tahun silam. Amin. (*)

*) Oleh Dr. HA. Hakim Jayli, MSi, CEO TV9 Nusantara, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur