Lamongan, jurnal9.tv -Memasuki bulan Januari 2026, cuaca ekstrem yang dikenal warga pesisir sebagai “Musim Baratan” kembali melanda wilayah Pantai Utara (Pantura) Lamongan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kondisi ini memaksa ribuan nelayan berhenti melaut akibat tingginya gelombang dan angin kencang yang membahayakan keselamatan.

Sudah lebih dari dua pekan aktivitas melaut di pesisir Lamongan tidak berjalan maksimal. Curah hujan yang tinggi disertai kilat dan angin kencang menjadi kendala utama.

Sekretaris DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lamongan, Murod, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus tahunan yang sangat ditakuti nelayan.

“Masyarakat di sini menyebutnya Musim Baratan. Intensitas hujan sangat tinggi disertai kilat, angin laut kencang berkisar 20-22 knot, dan gelombang laut bisa mencapai 2,5 hingga 3 meter hingga meluber ke daratan,” ujar Murod.

Kondisi ini berdampak langsung pada perputaran ekonomi di wilayah pesisir. Banyak nelayan yang memilih tidak melaut karena khawatir kapal mereka pecah atau tenggelam dihantam ombak. Untuk menyambung hidup, para nelayan terpaksa mencari pekerjaan sampingan seadanya.

Meski taruhannya adalah nyawa, beberapa nelayan terpantau masih ada yang nekad melaut. Hal ini dilakukan karena melaut adalah satu-satunya sumber penghasilan utama mereka.

“Namanya juga nelayan, hidupnya sangat bergantung pada kondisi cuaca. Kadang ada yang nekad karena tuntutan kebutuhan keluarga,” tambah Murod. Cuaca ekstrem ini diprediksi masih akan berlangsung hingga tiga bulan ke depan.

Menanggapi situasi ini, Ketua HNSI Lamongan, H. Sukri, mengimbau para nelayan untuk lebih mengutamakan keselamatan dan bersabar menunggu cuaca membaik.

Poin-poin imbauan HNSI bagi nelayan yang nekad melaut saat ini
wajib membawa alat keselamatan, meliputi ban pelampung dan jaket pelampung (life jacket) di atas kapal. Selain itu, nelayan wajib memastikan mesin dan lambung kapal dalam kondisi prima.

“Kami berharap nelayan tetap berhati-hati. Jangan memaksakan diri jika kondisi tidak memungkinkan. Alat keselamatan atau safety equipment adalah harga mati untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan seperti kapal pecah atau tenggelam,” tegas H. Sukri.