kolom

MASIH SAKTIKAH PANCASILA?

pancasila_perisai-svg

pancasila_perisai-svgJika memperlakukan Pancasila sebagai pusaka, maka sebenarnya ia sudah mati sebelum hari kesaktiannya. Namun, jika Pancasila dijadikan filosofi, pandangan dan pedoman hidup berbangsa dan bernegara oleh bangsa Indonesia, ia akan sakti selamanya. Pancasila, dalam bentuk naskah adalah layaknya pusaka yang tak akan berguna apa-apa, tanpa menjadi bagian laku kehidupan manusia Indonesia.

Dengan Ketuhanan Yang Mahaesa, diharapkan manusia Indonesia menjadi hamba Tuhan. Apakah manusia yang beragama mesti bertuhan? Banyak manusia agama, atas nama agama memuaskan nafus kebenciaannya, memupuk dendam kepada saudaranya. Bahkan atas nama agama, manusia menciptakan tuhan-tuhan yang disukainya. Manusia bisa beragama apa saja, tetapi ia juga bisa menuhankan apa saja; menuhankan hawa nafsunya, kebenciannya, harta benda dan sebagainya. Manusia beragama bisa lupa pada jati dirinya sebagai manusia, karena ia tidak bertuhan Yang Mahaesa.

Dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab, manusia Indonesia dapat berlaku adil dan beradab. Nyatanya, banyak yang hanya memanusiakan diri sendiri, tetapi menghewankan manusia lainnya. Jika manusia lain bisa kaya, dirinya juga harus bisa kaya, tetapi tidak sebaliknya. Ia tidak adil kepada manusia lain, dan dirinya sendiri. Akhirnya jatuh pada perilaku yang biadab, secara berkelanjutan membangun peradaban hewani, bukan peradaban manusia.

Dengan Persatuan Indonesia, manusia Indonesia bisa menjadikan manusia Indonesia lainnya sebagai saudara, sebagai satu kesatuan dirinya. Egoisme suku, agama, bahkan kelompok pengajian telah melalaikan bahwa ia hidup bersama saudaranya sebangsa Indonesia.

Dengan Permusyawaratan, manusia Indonesia harusnya mencari kebaikan bersama, untuk bersama dan dilakukan bersama. Nyatanya, permusyawaratan dilakukan dan dikendalikan oleh kepentingan dan hitungan untung rugi bagi kelompoknya. Harusnya itu semua dilandasi oleh hikmah kebijaksanaan. Permusyaratan yang melulu dikendalikan oleh politik kepentingan, pada ujungnya melupakan musyawarah itu sendiri, menang-menangan suara, siapa yang kuat bersuara keras itulah yang menjadi pengaturnya.

Dengan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, manusia Indonesia adalah manusia-manusia yang bahagia. Bahagia bila saudaranya bahagia, bersedih bila saudaranya bersedih. Nyatanya banyak manusia Indonesia memikirkan dan membahas saudaranya yang miskin, tetapi di tempat yang mewah, dengan suguhan berlimpah dan berlebih.

Jika demikian, masihkah Pancasila itu sakti? Nyatanya ia lemah, tak mampu merubah apa-apa. Mengapa demikian? Karena manusia Indonesia hanya menganggapnya sebagai benda pusaka dan berharap akan bekerja dan mewujudkan kesaktiannya sendiri menghadapi bencana.

Selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top